SEJARAH KODIFIKASI AL-QUR’AN
Oleh : Didik Purnomo ®
Pengantar
Segala puji bagi Allah Swt. Yang telah menurunkan al-Qur’an ke bumi sebagai petunjuk, pedoman dan pengetahuan bagi manusia.
Sholawat serta salam tetap dan terus mengalir kepada Nabi Muhammad Saw. manusia yang mempunyai jasa besar sebagai perantara turunya al-Qur’an kepada umat manusia.
Sesungguhnya al-Qur’an adalah Wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah disampaikan kepada kita ummatnya dengan jalan mutawatir, yang dihukumi kafir bagi orang yang mengikarinya.
Al-Qur’an adalah sebuah undang-undang bagi agama Islam, yang diyakini oleh orang muslim akan keaslian dari Sang Ilahi, tanpa ada campur tangan manusia dalam merubah atau menggati lafadz serta ma’nanya.
Ibarat pengemudi yang akan mengantarkan penumpangnya ke jalan lurus selamat dan sukses di dunia maupun di akhirat, ia tidak akan membawa penumpangnya menjadi tersesat dijalan, ataupun menjadi bingung dengan jalan yang banyak bahkan murtad, namun ia akan menjadikan penumpangnya merasakan ketenangan, mendapat petunjuk dan mengantar ketujuan penumpang dengan selamat.
Akan tetapi, terkadang juga ada penumpang yang masih mempunyai keraguan dalam hatinya, terhadap jalur arah dan tujuan yang ditempuh si pengemudi ini, dia masih melihat kanan-kiri jalan, apakah jalannya sudah lurus apa tidak ?.
Tidak sedikit dari kalangan orang Islam sendiri yang masih teromabang-ambingkan dalam laut keyakinan, yang bisa juga, menjadikan orang Islam itu sendiri tenggelam dalam jurang kesesatan, padahal sudah jelas kita sudah mempunyai peta dan petunjuk untuk menempuh lautan dunia.
Fonemana yang sering terjadi ditengah-tengah perjalanan kehidupan kita, terkadang juga kita masih merasakan lemah dan tipisnya pengetahuan tentang agama Islam, apalagi dikhalayak masyarakat yang sangat sensitif sekali dengan masalah keyakinan, karena keyakinan agama mereka terbentuk berdasarkan budaya disekitar yang masih berpontensi besar bergoyang dan bergesar kekiri atau jatuh kebawah. Hal itu semua, tidak lain disebabkan oleh kedangkalan dan buramnya Ilmu pengetahuan tentang agama Islam, baik dari segi isi kandungan al-Qur’an, maupun tentang sejarah pembukuan al-Qur’an.
Dewasa ini para orientalis sudah menyoroti dan memantau setiap aksi atau activitas yang dilakukan orang Islam, mereka sedang mencari cela-cela kelemahan dan kebodohan orang Islam dalam beragama, mereka hendak meruntuhkan ajaran Islam dan keyakinan melalui cela kebodohan itu.
Dikalangan orientalis berusaha menepis sejarah punulisan al-Qur’an, kendati melihat rentang masa lima belas tahun setelah wafatnya Rasulullah Saw. dengan didistribusikan naskah al-Qur’an ke pelbagai wilayah dunia Islam, banyak mereka memaksakan pendapat tentang kemungkinan terjadinya kesalah yang menyeruak ke dalam teks al-Qur’an dimasa itu.
Maka dari sini lah pentingnya kita mempelajari historis kodifikasi al-Qur’an pada masa Rasulullah hingga masa Ustman, serta mencari argument-argument yang tidak diragukan lagi kebenaranya untuk menjawab dan mematahkan pendapat para orientalis terhadap al-Qur’an, dan segera menutupi cela jalan bagi orang orientalis yang hendak mendistorsikan permasalah yang benar.
Dalam bahasan kali ini penulis mencoba menyoroti permasalah yang sedang dipermasalahkan oleh para oreintalis yaitu tentang sejarah kodifikasi al-Qur’an dari masa Nabi Muhammad Sw. Masa Kholifat Abu Bakar dan masa Kholifah Ustman bin ‘Afan.
Sekilas mengenai Jama’a
Kata jama’a atau dalam bahasa populer adalah kodifikasi.
dalam bahasa arab kata jama’a dari segi bahasa mempunyai arti menyusun yang terpisah atau yang tak beraturan. Yaitu mengumpulkan sesuatu dengan mendekatkan bagian satu dengan bagian yang lain.
Dalam Ilmu al-Qur’an, kata jama’a mumpunyai dua arti yang nantinya dari ma’na itu akan melahirkan ma’lumat-ma’lumat yang luas.
Yang pertama jama’a mempunyai ma’na yaitu : menghafal semuanya.
Dan ma’na yang kedua yaitu : membukukan al-Qur’an semuanya dalam bentuk tulisan dari ayat dan surat yang masih terpisah-pisah berkumpul menjadi satu.
Seperti apa yang pernah dikatakan oleh ‘Abdulaah bin ‘Amru ; aku sudah mengumpulkan al-Qur’an setiap malam hari, maksudnya saya sudah menghafalkan al-Qur’an.
Dan selanjutnya yang telah dikatakan Abu Bakar kepada Zayd bin Stabit ; ikutilah al-Qur’an lalu kumpulkanlah, maksudnya tulis al-Qur’an itu semuanya.
Kodifikasi al-Qur’an pada masa Rasulullah Saw.
Al-Qur’an adalah wahyu Ilahi yang diturunkan kebumi melalui seorang Nabi yang tidak bisa menulis dan membaca tulisan, beliau adalah Nabi Muhammad Saw. Walau beliau seorang yang tidak bisa menulis dan membaca pada awal masa kenabiannya, namun rasa semangat dalam menerima wahyu, serta menghafalkannya tidak mengurangi sama sekali. Hal itu dibuktikan ketika dalam proses pentransferan wahyu ke Rasulullah.
Beliau mengikuti dengan seksama, serta perhatian tinggi dalam pengajaran dan pimbingan yang disampaikan oleh malaikat Jibril, ketika dalam proses pentrasferan. Beliau benar-benar memperhatikan lafadz dan huruf yang keluar dari malaikat jibril, serta tidak mau melewatkan satu huruf pun dari al-Qur’an yang tertinggal dari konsentrasi beliau. Hal itu semua karena beliau sangat meperhatikan betul dalam menerima wahyu dari Ilahi.
Sampai Allah SWT. Menggambarkan dalam al-Qur’an, sikap Rasulullah Saw. ketika hendak mengafalkan al-Qur’an, beliau sangat tergesa-gesa dan ingin sekali bisa menguasai al-Qur’an tersebut dalam hatinya.
Allah SWT. Berfirman dalam Surat al-Qiyaamah ayat 16-19, yaitu :
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآَنَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآَنَهُ (18) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ (19)
“Jnganlah kamu gerakan lidahmu untuk membaca al-Qur’an hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu. Kemudian, atas tanggung kamilah penjelasannya.”
Dan setelah Nabi Muhammad Saw. Mengahafal dan memahami al-Qur’an, barulah beliau menyampaikan al-Qur’an kepada sahabat-sahabt, dengan membacakanya pelan-pelan dan penuh perhatian agar mereka bisa mengfalkannya dan mempelajarinya. Semangat mereka dalam mempelajari, memahami dan menghafal al-Qur’an seperti api yang menyala-nyala, karena dari mereka sendiri sangat mencinta terhadap Nabi, Allah Swt dan al-Qur’an, maka dengan landasan bahan bakar kecintaan tersebut, membantu mereka dalam menghafal dan mempelajari al-Qur’an.
Tidak hanya itu yang dilakukan oleh para sahabat terhadap al-Qur’an. Mereka mencoba melakukan suatu upaya yang bisa menjadikan kosentrasi penuh dalam berintraksi dengan al-Qur’an serta menuangkan semua perhatianya dalam mempelajari, memahami dan menghafalnya, seperti yang pernah dilakukan para sahabat yaitu menjauhi kesibukan dunia, menjauhi kehidupan yang mewah, tidak lain tujuannya hanya memberikan al-Qur’an ditempat yang istimewah dalam diri mereka.
Peran Nabi Muhammad Saw. Dalam mendukung sahabatnya untuk menghafal al-Qur’an dan mempelajari selalu didorong terus dengan diberikannya kata-kata hikmah tentang keutamaan orang yang mempelajari dan menghafal al-Qur’an.
Tidak hanya itu saja, Allah Swt. Juga sudah mengatur itu semua, bagaimana para sahabat bisa mempelajari dan menghafal al-Qur’an dengan mudah. Dengan adanya al-Qur’an yang diturunkan berangsur-angsur itu salah satu cara yang menyebabkan mereka mudah dalam menghafal al-Qur’an. Seperti yang sudah Allah SWT. Terangkan dalam surat al-Qomar ayat 17 :
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (17)
“Dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran.”
Dalam kitab sahih-nya Bukhari telah mengemukakan tentang adanya tujuh hafiz, melalui tiga riwayat. Meraka adalah Abdullah bin Ma’ud, Salim bin Ma’qal bekas budak Abu Hudzaifah, Mua’az bin Jabal, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Stabit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu Darda’. Penyebutan para hafiz tujuh ini tidak berarti pembatasan, karena beberapa keterangan dalam kitab sejarah dan sunan menujukan bahwa para sahabat berlomba-lomba menghafalkan al-Qur’an dan meminta anak-anak dan istri mereka untuk menghafalkannya.
Dari sini sudah bisa diambil kesimpulan bahwa dengan adanya para sahabat menghafal dan mempelajari al-Qur’an, maka hal itu dinamakan kodifikasi al-Qur’an dalam bentuk hafalan. Yang mana al-Qur’an itu semua sudah terkumpul dalam hati mereka.
Pada masa sahabat itu, ada sebagian dari mereka yang selalu berpegang selalu pada hafalan, mereka suka menjadikan hafalan itu sebagai catatan semu yang bisa dibuka sewaktu-waktu, seperti menghafal silsilah, menghafal sya’ir dan menghafal al-Qur’an. meraka tidak mau mencatat apa yang sudah dihafalkan kedalam bentuk tulisan, karena pada umumnya mereka buta huruf, tapi bukan berarti semua orang arab itu buta huruf, maka dari situlah Nabi Muhammad Saw. menyuruh para sahabat untuk menulis al-Qur’an ketika sudah dihafalnya. Karena disamping membantu para sahabat mudah dalam menghafalnya dan untuk menjadikan al-Qu’an itu ada tidak hanya dalam bentuk hafalan, namun harus ada dalam bentuk tulisan, serta dikhawatirkan terjadi sesuatu yang bisa merubahnya, karena al-Qur’an adalah mu’jizat yang apabila dibacanya mendapatkan pahala dari-Nya, maka harus sangat hati-hati sekali dalam menjaganya tetap utuh.
Para sahabat seperti Abu bakar, ‘Umar, ‘Ustman, ‘Aliy, Mua’awiyah, Ibn Mas’ud, Kholid bin Walid, Abi bin Ka’ab, Zaid bin Stabit dan Stabit bin Qoiys, merekalah yang menulis al-Qur’an dalam bentuk tulisan. Akan tetapi tidak ditulis dalam bentuk kertas, melainkan al-Qur’an pada masa itu ditulis diatas potongan batu, kulit binatang, pelapah kurmah. Kerena pada masa itu alat tulis tidak seperti sekarang yang mudah didapat dimana-mana. Jadi penulisan al-qur’an pada masa itu tidak terkumpul pada suatu tempat, tapi terpencar-pencar, dari potongan satu kepotongan yang lain.
Walaupun al-Qur’an ditulis ditempat yang terpisah-pisah, itu bukan berati bahwa ayat-ayat al-Qur’an tidak berurutan antara mana ayat yang pertama dan yang kedua serta seterusnya. Hal semacam itu seperti yang telah dikatakan oleh Zaid bin Stabit : Rasulullah telah wafat, sedang Qur’an belum dikumpulkan sama sekali.” Maksudnya adalah ayat-ayat dan surat-suratnya belum dikumpulkan sama sekali. Akan tetapi Mereka masih membaca al-Qur’an berurutan seperti yang turunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Karena ketika al-Qur’an deserahkan kepada Rasulullah, malaikat Jibril sudah memberikan petunjuk bahwa mana ayat yang dilitakan di awal dan mana ayat yang diletakan diakhir.
hal itu sudah disinggung dalam hadist Nabi
(ضعوا هذه السورة في الموضع الذي يذكر فيه كذا و كذا)
(كنا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم نؤلف القرآن من الرقاع)
Hadist diatas menunjukan bahwa ketika malaikat jibril mentransfer al-Qur’an kepada Rasulullah, dia juga menjelaskan kepada Rasulullah bahwa ayat ini letaknya disurat ini atau ayat ini menempati tempat ini. Dan apa yang dikukan malaikat itu bukan karena kehendak dirinya sendiri melaikan atas perinta Allah SWT. Agar meletakan ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan tempatnya.
Penulisan Al-Qur’an pada masa itu menggunakan tujuh huruf, karena al-qur’an itu sendiri diturunkan kebumi menggunakan tujuh huruf. Tidak hanya tulisan al-Qur’an saja yang ditulis oleh para sahabat, melainkan seperti tawil al-Qur’an, nasakh mansukh dan tafsir, seperti yang pernah dilakukan oleh Ibn Mas’ud.
Maka dari itu Nabi Muhammad Saw. Melarang kepada sahabat untuk tidak menulis sesuatu dari Rasullah kecuali al-Qur’an. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Muslim,
“Janganlan kamu menulis sesuatu yang berasal dariku, kecuali al-Qur’an. Barang siapa telah menulis dariku selain al-Qur’an, hendaklan ia menghapusnya”.
Pengertian hadist di atas bukan berarti mempunyai pengertian bahwa dilarangnya para sahabat menulis selain alu-Qur’an karena khawatir tercanpurnya antara tulisan al-Qur’an dengan tulisan lainnya, akan tetapi mempunyai pengertian bahwa Rasulullah hanya menginginkan agar perhatian dan konsentrasi sepenuhnya dicurahkan untuk al-Qur’an.
Salah satu alasan kenapa al-Qur’an pada masa Rasulullah tidak ditulis di satu tempat. Karena turunya al-Qur’an berangsur-angsur itu menandakan bahwa al-Qur’an sendiri berbeda dengan kitab-kitab syamawi yang lainnya. Karena turunya al-Qur’an kebumi berdasarkan terjadinya sesuatu, maka dari itu dilain waktu masih ada kemungkinan ayat satu dinask dengan ayat yang baru turun dan dikarenakan juga, pada masa waktu itu susah adanya peralatan tulis.
Kodifikasi dimasa khalifah Abu Bakar
Lima hari menjelang wafat, Rasulullah Saw berpidato menerangkan keutamaan Abu Bakar ash-Shidik dibandingkan seluruh sahabat lainya, ditambah lagi instuksi nabi dihadapan seluruh sahabat agar Abu Bakar ditunjuk menjadi imam kaum muslim dalam shalat. Setelah Rasulullah Saw. pulang keRahmatullah, maka Abu Bakar lah yang menjadi penggati urusan keIslaman. Dan dari situlah mulai bergerak Musailamah al-Kadzab mendakwakan dirinya adalah Nabi. Dia berupaya membuat activitas yang menyerupai perbuatan Rasulullah Saw. seperti Nabi pernah meludah disebuah sumur yang airnya seketika itu pula menjadi banyak, Musailamah pun meniruhnya dia pernah meludah kesebuah sumur tapi airnya malah menjadi kering, bahkan dia pernah meludah disebuah sumur yang lain namun airnya malah menjadi asin. Banyak sekali khurafat-khurafat dan kebohohan yang diobral Oleh Musailam di kalangan Bani Hanifah salah satunya adalah bahwa ia menerimah wahyu dari Tuhan-nya yaitu :
wahai katak anak dua katak
Bersihkan air kami niscaya kamu akan bersih
Kami tidakpula mencegah orang untuk minum
Kepalamu di air sementara ekormu ditanah.
sehingga ia dapat mempengaruhi Bani Hanifah dari penduduk Yamam, dan banyak sekali dari kalangan orang muslim disana yang murtad, tidak mau membayar zakat, sholat dan sebagainya.
Setelah Abu Bakar mengetahui tindakan Musailamah itu, beliau menyiapkan suatu pasukan tentara terdiri dari 4000 pengendara kuda yang dipimpin oleh Kholid bin walid. Pasukan Kholid berangkat untuk menggempur mereka. Dipeperangan Yamamah teresebut diantara para sahabat yang gugur dalam pertempuran tersebut adalah Zaid ibnu Khathabah, saudara ‘Umar dan selain dari pada itu pula 700 penghafal al-Qur’an. Setelah ummat Islam mengeraskan serangan meraka barulah pertolongan Allah Swt datang, dan pasukan Musailamah hancur lalu lari ke kebun kurma. Al-Barra’ ibn Malik. salah satu pasukan orang Islam menaiki tembok kebun untuk masuk kedalam, guna membuka gerbang pintu kebun kurma. Setelah tentara Islam masuk kedalam, barulah Musailah dan kawan-kawanya dibunuh, dan kebun tersebut dinami dengan kebun mati.
Melihat begitu banyaknya sahabat penghafal al-Qur’an yang gugur di medan pertempuran tersebut, maka timbullah Inisiatif ‘Umar ibn Khatab untuk mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an dalam satu tempat, karena dikhawatirkan al-Qur’an pada masa itu yang masih terpisah-pisah dan berada pada penghafal nanti akan musnah, disamping itu juga untuk menjaga al-Qur’an tetap utuh. Maka datanglah ‘Umar kepada Abu Bakar mengutarakan idenya untuk mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an pada satu tempat. Awalnya Abu Bakar menolak usulan dari ‘Umar untuk membukukan al-Qur’an dan keberatan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan Rasulullah Saw. bermusyawarah lah para sahabat dalam malasah tersebut. Dan ‘Umar pun tidak putus asa untuk mendesak dan memberi penjelasan yang bisa dibuat pertimbangan oleh Abu Bakar, bahwa perbuatan ini sungguh mulia, karena mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an dalam satu tempat adalah salah satu perbuatan menjaga dan memeliharanya, disamping itu juga Rasulullah Saw. pernah menghimbau untuk melakukan sesuatu dalam mejaga atau menghafal al-Qur’an, dan hal itu juga bukan suatu perkara yang baru, karena pada masa Rasulullah Saw, beliau memerintah sahabat untuk menulis al-Qur’an di potongan kulit, pelepah kurmah, batu dan lain, tidak lain itu perintah Nabi Muhammad Saw. agar menjaganya, akan tetapi sifat penulisnya masih terpisah-pisah. akhirnya Allah Swt membuka hati Abu Bakar, dan menyetujui dengan usulan ‘Umar. Kemudian Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Stabit untuk memikul tugas yang diberikan oleh Abu Bakar, agar mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an. mulanya Zaid tidak setuju usulan seperti itu, seperti yang dialami Abu Bakar, tapi selanjutnya ia bisa menerimanya.
Zait bin Stabit pun memulai tugas tersebut, dalam tugas tersebut ia dibantu oleh sahabat-sahabat lainnya seperti ‘Ubay bin Ka’ab, ‘Ustman bin ‘Afan dan Ali bin abi Tholib. dalam pengumpulan nas-nas al-Qur’an tersebut ia bersandar pada hafalan yang ada dalam hati para qurra dan catatan yang ada pada penulis. Ia sangat hati-hati sekali dalam pengumpulan nas-nas al-Qur’an, bahkan ia tidak mudah begitu saja menerima nas al-Qur’an yang cuma berdasarkan pada hafalan saja, tanpa didukung dengan tulisan yang mutawatir dari Rasulullah Saw, dan sebaliknya, atau disebut dengan menghadirkan dua saksi.
Selain membukukan dan mengumpulkan al-Qur’an kesatu mushaf, Zaid bin Stabit juga memilah-milah mana bacaan yang tidak dimansukh, ia juga tidak menerimah atau tidak membukukan nash yang tidak mutawatir riwayatnya, mushafnya juga mencakup tujuh huruf, ayat-ayatnya tersusun rapi, sedangkan surahnya masih belum. Maka dari itu dinamakan suhuf bukan mushaf. Suhuf-suhuf yang dibukukan oleh Zaid bin Stabit atas perintah Abu Bakar, berbeda dengan suhuf-suhuf yang dimiliki oleh sahabat-sahabat lainnya, karena suhuhf-suhuf yang dimiliki oleh para sahabat masih belum tersusun rapi dari segi naskhnya, susunan ayat-suratnya dan lainnya.
Setelah Abu Bakar wafat, al-Qur’an disimpan oleh khalifah Umar, dan setelah Umar wafat, al-Qur’an tersebut disimpan oleh Hafsah istri Rasulullah Saw. sengaja Umar menyerahkan Mushaf tersebut kepada istri beliau, karena Hafsah lebih berhak, dan Umar pun mempunyai pertimbangan lain, kalau sendainya mushaf tersebut diserahkan kepada sahabat lainnya, dikhawatirkan akan timbul fitnah dan sebagainnya. Sengaja mushaf yang dikodifikasikan pada masa Abu Bakar tidak diperbanyak, kendati pada waktu itu para sahabat banyak yang sudah menghafal al-Qur’an.
Kodifikasi pada masa ‘Ustman bin ‘Afan
Penyebaran Islam bertambah luas, para qurra pun tersebar di pelbagai wilayah, dan pendudukan disetiap wilayah itu mempelajari qira’at (bacaan) dari qori-qori yang dikirim kepeda mereka. Cara bacaan Qur’an yang meraka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan huruf, yang mana al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf. Dan apabila meraka berkumpul pada suatu pertemuan atau disuatu medan perang, sebagian mereka merasa bingung dengan adanya perbedaan bacaan ini. Terkedang juga sebagian meraka merasa puas dengan perbedaan bacaan, karena perbedaan tersebut disandarkan pada Rasulullah Saw. tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusup keraguan pada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah Saw. sehingga terjadilah perbincangan bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku. Dan pada gilirannya juga terjadi pertentangan. bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa. Maka Fitnah yang demikian itu harus segera diselesaikan.
Ketika pengiriminan ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan, perselisihan tentang bacaan al-Qur’an muncul dikalangan tentara-tentara muslim, sebagiannya direkrut dari siria dan sebagian lagi di Iraq. Masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, seperti meraka yang dari Syiria memkai qiraat Ubay bin Ka’ab, penduduk Iraq memkai qiraat Ibnu Mas’ud. Mereka menggungakan beberapa qiraat dengan memakai tujuh huruf. dan mereka juga menentang orang yang menyalahkan bacaannya, dan hingga saling mengkafirkan. Perselisihan ini cukup serius hingga menyebabkan pemimpinan peperangan yaitu Hudzaifah, melaporkan masalah tersebut kepada Ustaman bin Afan.
Titik permasalhanya adalah bahwasanya banyak dari penduduk Saym dan Iraq, bermacam-macam dalam membaca al-qur’an hingga meraka mencampur-adukan dengan dialek mereka. Maka dari itulah khalifah umar menyalin mushaf dengan menggunakan satu bacaan yaitu dengan menggunakan bahasa orang quraiys.
Yang menjadi alasan utama adalah menyatuhkan orang islam dan meniadakan pertingkain, yang telah terjadi dipenduduk dalam mempermasalahkan perbedaan bacaan al-Qur’an. maka dari itu khalifah Umar menyalin mushaf dengan menggunakan satu huruf yaitu bahasa orang quraiys.
Maka Khalifah Umar mengambil langkah yang didukung dengan para sahabat untuk menyalin lembaran-lembaran pertama yang ada pada Abu Bakar dan menyatuhkan bacaan umat Islam.
Lalu Khalifah Umar pun mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam suhuf-suhuf Abu Bakar yang ada padanya. Kemudia Umar memanggil Zaid bin Stabit, Abdullah bin Zubair, Sa’i bin ‘As dan Abdurahman bin Harist bin Hisyam, ketiga orang terakhir ini dari suku quraiys. Menurut riwayat Ibnu abu Daud ada 12 orang yang bertugas membantu Zaid dalam menyalin mushaf. Lalu meraka diperintah agar menyalin suhuf-suhuf itu dan memperbanyak mushaf. Serta memerintahkan pula agar apa yang diperselisihkan Zaid dengan ketiga orang quraiys tersebut ditulis kedalam bahasa quraiys, karena al-Qur’an turun dalam logat mereka. Setelah itu mushaf yang telah disalin tersebut dikirim ke bebrapa kota seperti ke Medinah, Kufah, Basroh, Damaskus dan Mekah.
Dan Khalifah Umar memerintahkan supaya membakar mushaf-mushaf mereka yang berlainan. Metode yang dipakai oleh Zaid bin Stabait beserta temannya dalam menyalin suhuf-suhuf yang ada pada Sayidah Hafsah, yaitu menyalin mushaf dengan menggunakan satu qiraat dengan satu huruf dari tujuh huruf.
Dalam ceramahnya 'Uthman mengatakan, "Orang-orang telah berbeda dalam bacaan mereka, dan saya menganjurkan kepada siapa saja yang memiliki ayat-ayat yang dituliskan di hadapan Nabi Muhammad. hendaklah diserahkan kepadaku." Maka orang-orang pun menyerahkan ayat-ayatnya, yang ditulis diatas kertas kulit dan tulang serta daun-daun, dan siapa saja yang menyumbang memperbanyak kertas naskah, mulamula akan ditanya oleh `Uthman, "Apakah kamu belajar ayat-ayat ini (seperti dibacakan) langsung dari Nabi sendiri?" Semua penyumbang menjawab disertai sumpah, dan semua bahan yang dikumpulkan telah diberi tanda atau nama satu per satu yang kemudian diserahkan pada Zaid bin Thabit. Dan antara ayat-ayatnya dan suratnya sudah tersusun rapi.
Sedangkan salah satu kenapa Rasulullah tidak mewajibkan membaca qiraat itu semua dengan menggunakan tujuh huruf, itu karena sifatnya hanya keringanan penduduk pada zaman dulu dalam melafadzkan bahasa arab, maka dari situ Khalifah Ustman memerintahkan kepada Zaid untuk menyalin al-Qur’an kedalam satu Qiraat yang mutawatir dengan memakai satu huruf, dan membakar mushaf-mushaf yang berlainan dengan mushaf baru disalin, ini semua tidak lainya niat baik dari Khalifah Ustman agar umat Islam diseluruh penjuru bisa bersatu dan tidak boleh pecah belah.
Permasalahannya adalah ahli Syam dan Iraq, membaca al-Qur’an dengan huruf dan bacaannya berbeda-beda, sebenarnya meraka tidak salah membaca demikian, karena yang meraka baca, berasal dari para sahabat, seperti ibnu mas’ud ubay bin ka’ab, cuman titik permalahannya adalah dari mushaf-mushaf yang ada pada para sahabat masih tercampur dengan ma’na al-qur’an, ta’wilnya, naskh mansukhnya, dan juga dari generasi kegenerasi yang belum pernah bertemu dengan Rasulullah Saw. serta bacaan al-qur’an yang dibaca para penduduk syam, iraq mengalami pencampuran dengan dialek mereka. dikitab yang lain menerangkan bahwa bacaan mereka seperti bacaan para sahabat, tidak mengalami pencampuran dialek. akhirnya ketika mereka berkumpul disuatu peperangan, mereka terbingungkan dengan perbedaan bacaan al-qur’an yang meraka baca, pertikain tersebut memancing amarah meraka, hingga meraka mengkafirkan satu sama lain. Akhirnya Khuzaifah melapor kejadian tersebut kepada khalifah Ustman. Khalifah khawatir sekali pertingakain ini akan menyala besar dan mengakibatkan terpecahnya orang Islam. Akhirnya Khalifah membuat suatu lajnah yang terdiri dari 12 orang dari suku quraisy dan anshor, yang dipimpin oleh zaid bin stabit. Mereka bertujuan menyalin suhuf-suhuf yang ada pada para sahabat, dan tidak ketinggalan pula suhuf-suhuf yang ada pada Hafsah. Menyalin suhuf-suhuf tersebut menjadi mushaf yang rapi, tersusun, dari segi ayat, surat dan bacaannya. Adapaun bacaanya menggunkan bahasa orang quraiys, sebagaimana al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan logat orang quraiys. Sedangkan untuk masalah apakah mushaf ustamni tersebut menggunakan tujuh hurus atau satu huruf, hal ini masih dalam ikhtilaf ulama’.
Manna kholil al-qottan mengatakan, bahwa Zaid dan kelompoknya menyalin al-qur’an dengan menggunakan satu huruf dari tujuh huruf dan memakai satu qiraat.
Dalam muqorro usuluddin tingakt II, bahwa sebagia ulama mengatakan mushaf Ustmani mengandung tujuh huruf.
Sedengkan sebagai ulama lainnya, mengatakan bahwa mushaf ustmani memakai satu huruf dari tujuh.
Mushaf ‘Ustmani
Terdapat perbedaan diantara Ulama mengenai berapa jumlah mushaf yang dikirim ke kota. Ada yang mengatakan 4 buah mushaf yaitu dikirim ke Kufa, Basra, Syiria dan satu lagi di Madinah yang dibawa oleh Khalifah Ustman. Dan ada yang mengatakan tujuh buah mushaf.
Khalid bin Iyas bin Shakr bin Abi al-Jahm, dalam meneliti Mushaf milik `Utsman sendiri, mencatat bahwa naskah itu berbeda dengan Mushaf Madinah pada dua belas tempat. Untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah.
Dengan jelas, naskah `Uthman miliki pribadi sama seperti Mushaf yang ada di tangan kita sekarang. Sedangkan dalam Mushaf Madinah terdapat sedikit perbedaan yang boleh kita simpulkan seperti berikut: (1) satu tambahan dalam ; (2) Tidak ada dalam ; (3) tidak ada dalam ; (4) ada dua dalam ; Semua perbedaan, yang hampir tiga belas huruf dalam 900 baris, akan tetapi tidak mempengaruhi arti setiap ayat dan tidak membawa alternatif lain kepada arti semantik. Mereka juga tidak bisa disifatkan sebagai sikap tidak hati-hati. Zaid bin Stabit memegang teguh prinsip bahwa dalam setiap penemuan bacaan dalam berbagai naskah diperlukan kesahihan, dan status yang sama (equal status), dan kemudian meletakkannya dalam naskah yang berbeda
Banyak ilmuwan yang telah menguras waktu dan tenaga mereka dalam membandingkan Mushaf 'Uthmani, dan melaporkan apa yang mereka dapatkan dengan ikhlas dan tidak menyembunyikan apa pun walau sedikit. Abil Uarda, seorang sahabat terkenal, telah bekerja keras tentang perkara ini sebelum dia meninggal dunia pada dekade yang sama dengan pengiriman Mushaf, dan meninggalkan istrinya (janda) untuk menyampaikan penemuannya. Untuk memudahkan, ketika semuanya dikumpulkan sungguh sangat mengejutkan. Semua perbedaan yang terdapat dalam Mushaf Mekah, Madinah, Kufah, Basra, Suriah, dan Naskah induk Mushaf 'Uthmani, melibatkan satu huruf, seperti: ... dst. Kecuali hanya adanya (dia) dalam satu ayat yang artinya tidak terpengaruhi. Perbedaan ini tidak lebih dari empat puluh huruf terpisah di seluruh Mushaf enam ini.
sedangkan untuk keberadaan Mushaf Ustmani yang khusus itu ternyata memancing perdebatan yang rumit. Berikut ini beberapa pendapat keberadaannya :
1. al-Maqrizi berpendapat bahwa mushaf tersebut dikirim ke Mesir. Pada mulanya mushaf ini ditemukan di perpustakaan al-Muqtadir billah, salah satu dinasti Abbasyiah, lalu dipindahkan kemasjid Amr. Lalu mushaf tersebut dipindah ke masjid Zaenab, pada tahun 1304 H, dan pada akhirnya dipindah dimesjid Hussen. Mushaf tersebut diduga mushaf ‘Ustmani yang khusus.
2. pendapat kedua, bahwa mushaf ini sekarang berada di basrah, mushaf tersebut berada di masjid Ali, karena melihat tetesan dara Ustman pada lembaran mushaf tersebut, ketika khalifah Ustman dikepung oleh perampok.
3. bahwa mushaf tersebut berada di Instambul, tepatnya dimuseum Thub Qabu Saray.
Sampai hari ini terdapat banyak Mushaf yang dinisbatkan langsung kepada ‘Uthman, artinya bahwa Mushaf-mushaf tersebut asli atau kopian resmi dari yang asli. Inda Office Library (London), dan di Tashkent (dikenal dengan Mushaf Samarqand). Mushaf-mushaf ini ditulis pada kulit, bukan kertas, dan tampak sejaman. Teks-teks kerangkanya cocok satu sama lainnya dan sama dengan Mushaf-mushaf dari abad pertama hijrah dan setelahnya, sampai pada mushaf-mushaf yang digunakan pada masa kita ini.
Penutup
Dalam makalah yang masih perlu didiskusikan dan masih banyak kekurangnya dalam isi dan lain sebagainya, boleh kita tutup. Akan tetapi mengenai pembahasannya tidak bisa kita tutup dalam waktu ini saja. Karena melihat begitu banyak perbedaan pendapat mengenai kodifikasi al-Qur’an. Dan melihat penulis makalah ini, terkadang terbingungkan dengan adanya perbedaan kitab satu dengan kitab lainnya, dikarenakan lemahnya pengetahuan bahasa arab. dan mungkin posisi penulis disini hanya memberikan info-info dan sebagai pengantar kegerbang wacana yang lebih luas.
Kebenaran menurut kita belum tentu benar bagi orang lain, kebenaran orang lain belum tentu sama benar dengan kita, dan kebenaran menurut kita semua belum tentu benar bagi Tuhan Yang Maha Esa, yang tahu segala-galanya.
Untuk itu keritik dan saran yang pedas, sangat ditunggu dan diharapkan pagi penulis sebagai cambuk untuk membuat makalah yang berkualitas lagi.
Wallahu A’lam.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ash Shidikiy, T.M. Hasbi ,sejarah dan pengantar ilmu al-Qur’an, Bulan bintang, Jakarta.
2. al A'zami, M.M ,The History of The Qur'anic Text - From Revelation to Compilation, diterjemahkan oleh Sohirin Solihin dkk, gema insani press, 1 april 2005.
3. ghorib, Fathi Muhammad, huquku mahfudzoh lilmualif, muqorror tingakt II.
4. ‘Abas, Fadhi Hasan , ghidzau jinaan bistamrotul jinaan, darul nafais, ordon, cet. I, 2007.
5. Azarqoni, Muhammad Abdul ‘Adhim , manahilul qur’an fi ‘ulumil qur’an, ditahqik oleh ahmad bin ‘aliy, darul hadist, kairo, 2001.
6. Syahbah, Muhammad bin Muhammad, madkol lidiroosati al-Qur’an karim, maktab sunnah, kairo, cet. 3, 2003,
7. al-Qattan, Manna’ Khalil , Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an, diterjemahkan oleh Drs.Mudzakir AS, litera antarnusantra dan Pustama Islamiyah.
8. Kastir, Ibnu , Tartib wa tahdzib kitab bidayah wanihayah, diterjemah oleh Abu Ihsan al-Astari, Darul Haq, Jakarta, Cet I, 2004.
9. Anwar Mag, Rosihon ,Samudra al-Qur’an, pustaka setia, Bandung, cet I, 2004.
10. Terjemah al-Qur’an al-karim
Jumat, 30 Mei 2008
SEJARAH KODIFIKASI AL-QUR’AN
Posted by
fismaba
at
05.12
1 comments
Labels: Buah Pikir
Senin, 07 April 2008
Kreativitas Ulama’ dalam Pengembangan Hukum Islam di Pesantrem
Kreativitas Ulama’ dalam Pengembangan Hukum Islam di Pesantren
M. Ainul Yaqin, M.Ed.
April 5th, 2008 ·
Dalam mengkaji literatur-literatur hukum Islam (teks kitab-kitab fiqh), perangkat ini (hermeneutika) merupakan kerangka metodologis yang tidak boleh ditinggalkan terutama ketika berhadapan langsung dengan realitas teks yang menjadi rujukan pokok seperti Al-Qur’an dan Hadits.
Di samping itu, perangkat hermeneutik ini juga dapat dijadikan sebagai metode analitik dalam mengkaji kondisi eksternal maupun internal yang melatari lahirnya sebuah teks atau fatwa, termasuk diantaranya adalah setting historis berikut kondisi subyektif Si pengarang teks itu sendiri (kondisi mental Si pengarang/ mushannif).
Mungkin, contoh paling sederhana yang dapat kita ambil, untuk menunjukkan adanya keterkaitan substansial antara realitas teks atau fatwa dengan kondisi eksternal tradisi taqlid dalam konteks pemaknaan hukum Islam terjadi dalam setiap generasi, sesuai dengan tingkat kemampuannya dalam memahami sumber hukum itu sendiri.
Dalam hal ini, gambaran struktur kronologisnya dapat dibagi menjadi tiga peringkat kemampuan dan kreativitas intelektual; Peringkat pertama adalah para mujtahid yang menafsirkan hukum Islam langsung dari sumbernya. Peringkat kedua adalah para muttabi’ yaitu kelompok yang mengikuti para mujtahid dengan mengetahui kerangka konseptual dan sumbernya.
Dan peringkat yang ketiga adalah muqallid yaitu kelompok yang mengikuti secara membabi buta pendapat dan teori-teori ulama sebelumnya tanpa meneliti ulang kebenaran dan kesesuaiannya dengan realitas kekinian.
Dengan demikian, maka penggunaan istilah taqlid di sini dapat dimaknai sebagai hilangnya kreativitas para ahli (ulama atau faqih) terhadap pemaknaan dan pengembangan hukum Islam itu sendiri . Kenyataan seperti inilah yang menjadi gejala umum di lingkungan pesantren kita.
sumber http://ainulyaqin.com/2008/04/05/kreativitas-ulama-dalam-pengembangan-hukum-islam-di-pesantrem/
Posted by
fismaba
at
09.56
0
comments
Labels: Buah Pikir
Selasa, 01 Januari 2008
Waktu Kita
Waktu Kita
Oleh Zen Luqmani
"Tahukah Anda, Apa sebenarnya yang sangat berharga di dunia ini?....
Detik yang baru saja berlalu ”
Saya yakin kita, saya dan Anda semua sadar akan betapa berharganya sebuah waktu walau hanya sedetik. Kita semua sadar kalau dalam sedetik bisa terjadi sebuah perubahan, seperti halnya kita sadar akan adanya tahun, bulan, minggu, hari, jam dan menit, bermula dari adanya sebuah detik. Tapi apakah kita sadar berapa banyak detik yang kita sia-siakan ?
Ada sebuah permainan yang berhasil membuat saya sadar akan betapa berharganya waktu buat kita, mudah-mudahan dapat diambil manfaatnya;
Sekarang Anda Siapkan secarik kertas dan sebuah pena atau alat tulis yang lain.
Kalau sudah, sekarang coba Anda tuliskan 5 nama orang-orang yang betul-betul Anda cintai, dan kelima orang itu sekarang masih ada dikehidupan anda.
Sudah ?
Kita tahu dalam kehidupan tidak semua yang kita inginkan akan bisa terwujud
Kadang apa yang kita anggap yang terbaik bagi kita belum tentu yang terbaik bagi-Nya
Tapi percayalah, apa yang Tuhan putuskan buat kita adalah yang terbaik bagi kita
Sekarang, Tuhan dengan kuasanya ingin mengambil salah satu dari nama yang anda tulis tadi. Dan disini Tuhan masih memberi kompromi kepada Anda untuk memilih siapa kiranya diantara kelima nama tadi yang anda relakan untuk dipanggil Tuhan terlebih dahulu. Anda sudah memilih ? Sekarang anda harus coret nama tadi dari daftar kelima nama orang-orang yang betul-betul anda cintai. Silahkan !
Saya tahu bahwa kelima nama tadi memang betul-betul berharga bagi Anda.
Saya tahu, terkadang berat sekali kalau kita berfikir kalau mereka ini harus meninggal mendahului kita, tapi kita masih bisa memilih dari daftar nama tadi. Kita sebenarnya tidak ingin kalau Tuhan memanggil dengan tiba-tiba, tanpa rencana, memanggil orang-orang yang Anda cintai tadi.
Saya tahu berat sekali, tapi daripada tiba-tiba, Tuhan masih memberi kesempatan buat kita untuk memilih dan anda harus coret nama tadi dari daftar anda
Sekarang Anda tinggal mempunyai 4 nama,
Saya yakin 4 nama ini adalah orang-orang yang memang betul-betul Anda cintai dan Anda sayangi saat ini. Dan saya yakin 4 nama ini juga betul-betul sangat mencintai dan menyayangi Anda saat ini.
Dan sekali lagi, Tuhan mempunyai kehendak lain, dan jika Tuhan sudah mempunyai kendak, kita tidak bisa melakukan apa pun.
Tuhan menginginkan satu nama lagi dari keempat nama orang-orang yang betul-betul Anda cintai tadi. Dan sekali lagi Anda bisa memilih, siapa kiranya yang Anda relakan untuk lebih dulu meninggalkan Anda ? dan Anda harus coret salah satu dari kempat nama tadi.
Sudah ?
Sekarang Anda tinggal mempunyai 3 nama,
Saya yakin 3 nama ini adalah orang-orang yang betul-betul hadir dalam setiap kehidupan Anda saat ini. Saya yakin 3 nama ini adalah orang-orang yang betul-betul Anda sayangi saat ini. Dan saya yakin 3 nama ini adalah orang-orang yang betul-betul menggantungkan hidupnya kepada Anda, mereka membutuhkan kasih sayang Anda, mereka hidup bersama-sama Anda. Dan sekali lagi, Tuhan berkehendak lain, Tuhan menginginkan untuk memanggil satu nama lagi dari 3 nama orang-orang yang Anda cintai tadi, sekali lagi Anda bisa memilih siapa diantara 3 nama tadi yang Anda harus relakan untuk dipanggil oleh-Nya dan anda bisa coret nama yang anda pilih.
Saya tahu berat sekali, sangat berat ! kalau kita harus merelakan mereka mendahului kita.
Dan terutama hidup kita untuk mereka, untuk 3 nama ini. Seakan-akan kalau 3 nama ini tidak hadir dalam kehidupan kita ya mendingan kita tidak hidup saja. Tetapi sekali lagi anda harus coret salah satu dari 3 nama tadi, dari pada dengan tiba-tiba Tuhan berkehendak lain.
Sekarang tinggal tersisa 2 nama lagi,
Saya ingin bertanya pada Anda, Apakah kira-kira hidup Anda saat ini untuk mereka berdua?
Sekali lagi saya yakin hidup mereka sangat bergantung pada Anda. Dan sekali lagi Tuhan berkehendak lain, Anda diberikan untuk kompromi, Anda harus memilih satu nama lagi yang harus Anda coret, dan beliau ini harus meninggal mendahului Anda, Anda harus memilih diantara dua nama tadi.
Saya yakin Anda merasa berat, saya yakin Anda akan mengatakan “ Saya tidak sanggup kalau hidup tanpa mereka” saya yakin akan hal itu. Dan kita tidak pernah tahu rencana Tuhan itu seperti apa?, Tuhan berkehendak lain dan Tuhan selalu menginginkan yang terbaik dari diri kita.
Sekarang tinggal tersisa satu nama lagi,
Saya yakin Anda berfikiran bahwa satu nama ini adalah orang yang betul-betul hadir dalam setiap kehidupan anda.
Saya yakin mungkin Anda ingin mengatakan “Sudah jangan kau panggil lagi !” tapi apala daya kita sebagai manusia untuk melarang Tuhan.
Saya yakin, bahwa satu nama ini adalah orang yang betul-betul Anda inginkan untuk mengisi kehidupan Anda sampai akhir hayat Anda. Akan mendampingi Anda nanti sampai tua. Saya tidak tahu itu siapa.
Dan sekali lagi, tuhan berkehendak lain. Saya yakin, sebenarnya kalau Anda bisa memilih, Anda ingin dipanggil duluan daripada satu nama ini, saya yakin itu. Tapi sekali lagi Tuhan berkehendak lain, dan Tuhan menginginkan untuk memanggil satu nama tadi dan Anda harus coret nama itu.
Ok, semua orang yang Anda cintai, semua orang yang Anda sayangi, semua orang yang anda kasihi telah Anda coret dan mereka telah meninggal mendului Anda. Sekarang bagaimana dengan Anda ?, pilihannya adalah Anda harus meneruskan kehidupan Anda ataukah Anda mengakhiri kehidupan Anda saat itu juga ?.
Dan sekali lagi Tuhan mengiginkan yang terbaik buat diri Anda. Kita semua ini milik Tuhan, mereka orang-orang yang disayangi-Nya akan di tempatkan di tempat yang paling layak bagi-Nya, saya yakin itu.
Dan Anda tidak perlu sedih, Kenapa ?
Karena kenyataannya 5 orang itu masih ada saat ini.
Kenyataannya 5 orang itu masih menemani kehidupan anda saat ini.
Kita harus betul-betul meluangkan waktu untuk mereka saat ini, kenapa ?
Karena kehidupan ini sulit di tebak, dan kehilangan akan terasa sangat nenyakitkan apabila yang hilang adalah sesuatu atau orang-orang yang sangat kita cintai.
Selamat Tahun Baru 2008
Semoga kita lebih bisa menghargai waktu dan lebih bijaksana dalam memanfaatkannya, sehingga kesuksesan akan serta-merta menghampiri kita. Amin !
Sumber http://wonk-ndeso.blogspot.com/2007/12/waktu-kita.html
Posted by
fismaba
at
18.30
0
comments
Labels: Buah Pikir
Belajar Bersahabat Dari Uzumaki
Belajar Bersahabat Dari Uzumaki
Oleh Abil Abal Abul Abbas
"Bijuu, Chakra. Jutsu, Rasengan, Hokage, Chuunin, Shinobi", istilah-istilah ini sekarang sudah bukan lagi menjadi kata-kata asing bagiku. Meski agak susah artikulasinya, tapi soal maksud barangkali aku dah banyak ngerti. Yah istilah-istilah ini menjadi familiar kurang lebih mulai setahun yang lalu. Berawal dari ketidak-sengajaan, saat aku dan seorang temen mau mengembalikan Handy-Cam dirumah salah satu temen. Aku penasaran melihat si tuan rumah itu sedang serius menikmati sebuah film kartun. Dan karena urusan handy-cam itu cukup lama, terpaksa aku niatkan ikut nonton film kartun itu daripada bengong nganggur. Satu-dua episode aku ikuti ceritanya, dan aku hanya bisa diam dan sesekali bertannya ke temen si "empu" film itu. Agaknya alur cerita yg menarik dengan adegan Battle-nya, membuat beberapa pertanyaan-pertanyaanku gak dijawab oleh temenku itu. Dan terkadang jawabnya juga ngasal, tapi itu nggak membuatku jadi merasa dicuekin. Toh aku kadang juga merasa begitu, kalau sudah serius menikmati bacaan atau tontonan, jadi kurang peka kalau diajak ngobrol.
Hampir sejam lebih aku menikmati serial kartun itu, mungkin karna kebetulan episodenya menarik dan ada adegan fight yang asyik, tak terasa kalau urusan Handy-cam itu dah beres. Tapi karena ceritanya yang makin bikin penasaran, jadi aku teruskan lagi nontonnya dengan sedikit- sedikit maklumat yang mulai aku dapatkan. Mulanya tahu film ini aku nggak respek, bukan karena faktor apa-apa sih ,ya cuma karna formatnya yang kartun itu aja. Bagiku film-film kartun cukuplah menghiasi masa kecil dan beliaku."Masak tuwek-tuwek jek nontok film kartun", pikirku waktu itu.
Tapi yang membuatku jadi tertarik, mungkin karena jumlah episode yang banyak dan itu bener-bener ada, bayangkan ada ratusan episode, Waw!. Apalagi masih dalam suasana liburan, tentu menjadi hiburan tersendiri menikmati film yang berjilid-jilid seperti ini. Ya akhirnya dengan bantuan hardisk temen aku minta untuk mencopy-nya. Eh lebih tepatnya aku usul ke temenku itu, karena ternyata temen yang kuajak itu sudah lebih dulu tahu tentang kartun itu. Meski udah dikasih tahu didepan, tapi aku lupa lagi ini film namanya apa. karena dari judulnya aja nggak Good Listening, beda dengan film-film kartun yang pernah menjadi idolaku, macam The He-man, Silver Hawk, The Centurions, Thunder Cat, G-Force, dan terakhir Dragon Ball. Ya barangkali judulnya yang kurang "mbarat" jadi kesannya kurang gagah. Tapi soal alur cerita barangkali bisa dibandingin dengan yang lain. Jadi sekrang aku dah keranjingan menikmati film kartun serial ini, Uzimaki NARUTO!.
Film Kartun Naruto merupakan adaptasi dari manga Naruto yang diterbitkan pertama kali di Jepang pada tahun 1999, yang merupakan karya Masashi Kishimoto. Dari informasi yang aku dapat, popularitas Naruto ini menyaingi kompatriotnya, yaitu Dragon Ball. Bahkan dari panjang episode dan ceritanya, Naruto lebih dari Dragon Ball. Dari prestasi dan penghargaan yang diraih, kini Serial Naruto adalah manga yang paling terkenal dan naik daun di seluruh dunia. Bahkan dalam sebuah polling di salah satu TV Jepang, Naruto menjadi peringkat pertama 100 Anime terbaik. Dan mendapat pula penghargaan sebagai Best Graphic Novel dlm Quill Award di Amerika Utara. 
Mengapa Serial ini bisa menjadi menarik dan kelihatan fenomenal? Setiap film kartun tentu punya kekhasan tersendiri. Dalam genre Anime, barangkali yang sering ditonjolkan adalah sisi kekuatan rekayasa Graphic-nya, disamping juga isi ceritanya. Sebutlah anime-anime made in jepang, rata-rata unsur artistik dalam komputerisasi sangat kentara dibanding anime-anime made in lain. Namun bagiku, kekuatan cerita masih menjadi idola. Sudah berapa puluh judul kartun yang sempet kunikmati, namun hanya satu dua tiga yang mampu membekas di hati. Tak lain karena disamping menghibur juga memberikan edukasi. Tak jarang, pelajaran berharga yang bisa diambil dalam film animasi tak kalah dibanding film non animasi. Jadi tak heran, bila hati tiba-tiba menjadi Pinky, hanya karena nonton Film Animasi.
Dari sosok tokoh utama dalam serial ini, karakternya memang dibuat hitam-putih. Artinya Naruto tidak melulu digambarkan sebagai sosok yang perfect tanpa cacat, namun dia ditampilkan sebagai karakter manusia pada umumnya. Yang mana disisi lain dia juga tidak selalu ditampilkan sebagai sosok yang annoyous,layaknya peran seperti Nobita ataupun shincan. faktor inilah yang membuatku merasa enjoy menikmati. Latar belakang Naruto yang tidak menyenangkan, menjadi titik tolak ide cerita yang ingin disuguhkan. Bahwa dalam setiap kekurangan dan kelemahan terdapat sebuah kekuatan dan spirit untuk menjadi yang terbaik. Manusia pasti tidak bisa menghapuskan kelemahan dan kekurangan yang dipunya, namun manusia bisa merubahnya untuk bisa menjadi lebih baik.
Nilai-nilai dalam serial ini secara eksplisit bisa dinikmati lewat dialog dan tingkah laku tokoh-tokohnya. Dari duo Guru besar Naruto, Jiraiya dan Kakashi,nampak ditampilkan perilaku konyol yang nyrempet ke arah yang "ngeres", namun di sisi lain mereka punya sifat penuh pertimbangan yang matang. Dan masih banyak karakter tokoh-tokoh lain yang unik, seperti si Gendut Chouji yang doyan makan, sehingga seolah-olah makan adalah menjadi sumber kekuatan terbesarnya.
Secara garis besar. menurutku banyak sekali nilai-nilai yang bisa memberikan edukasi dalam serial ini. Seperti tentang kuatnya persahabatan, pentingnya kesetiaan, perasaan saling memahami-melindungi dan lain sebagainya.
Namun diantara yang paling menggelitik hatiku adalah nilai persahabatan yang ditampilkan dalam sosok Naruto. Bagaimana perasaan Naruto ketika Sasuke, sahabat yang sudah dianggapnya saudara pada akhirnya harus jatuh di tangan orang jahat dan menjadi orang yang memusuhinya. Tanpa mempedulikan nasibnya, Naruto terus berjuang tak kenal lelah demi mengembalikan Sasuke ke jalan yang benar. Belum lagi persahabatan yang dibangun sebagai sesama murid Ninja dalam sebuah tim penyelamatan, jatuh bangun Naruto berjibaku dengan musuh dan dirinya demi menyelamatkan sahabat-sahabatnya. Sampai dalam episode yang layaknya seperti dalam kehidupan nyata, karena sama-sama mempunyai latar belakang yang tidak menyenangkan, Naruto menjadi orang yang paling merasakan kehilangan saat Gaara diculik oleh gerombolan musuh. Kesungguhannya dalam menjaga persahabatan bisa aku rasakan dari bulir-bulir air mata yang sering tumpah meruah.
Selaras dengan ajaran yang selama ini kita dapatkan, persahabatan mempunyai pengaruh yang besar buat kehidupan kita ini. Seperti sebuah ilustrasi, bila kita berteman dengan penjual minyak, kita juga akan ikutan bau minyak. Nah kalo berteman dengan penjual Thokmiyah? ya itu tergantung bau asal anda juga.
Ketika ada seorang teman yang "menegur", Apa sih yang kamu sukai liat kaya gitu (Naruto)?, aku jawab pertanyaan temenku itu, " Ya karena sudah mengikuti dari awal". Tapi dalam hati, aku ngerasa mendapatkan hiburan dan segenggam pelajaran yang berharga.Bahwa persahabatan tidak hanya diukur dengan seberapa banyak kita memberi dan menerima, tapi lebih dari itu seberapa tulus dan sungguh2 kita menjaganya. Dan ketika ngobrol-ngobrol sama keponakanku yang kelas 6 SD, tak lupa aku singgung masalah Naruto, apakah suka juga? Ternyata dia juga suka, dan aku berharap dia juga bisa mengambil nilai-nilai yang baik dalam serial ini.
Sungguh, untuk menunggu keluarnya episode Naruto yang baru setiap minggunya tentu bukan perkara yang gampang. Yang jelas aku kecewa jika selesai setiap episodenya karena harus menunggu seminggu lagi. Namun yang membuatku tak kalah kecewanya, aku pernah kehilangan 4 poster, salah satunya poster Naruto gara-gara tertinggal di badan si Burung Besi "Etihad".
Miss U Naruto, kapan kamu nongol lagi?? Ah Datte Bayyo!!!
291207
Manuto Kun
Sumber : http://bulbasku.blogspot.com/2007/12/belajar-bersahabat-dari-uzumaki.html
Posted by
fismaba
at
18.18
0
comments
Labels: Buah Pikir
Jumat, 28 Desember 2007
The Tourist Industry; Is It Benefical to Local People?
The Tourist Industry; Is It Benefical to Local People?
Oleh Fathan Aniq
Some days ago, I read Iwan Mucipto’s paper on tourist industries in Lombok. The paper itself is entitled “Development for Whom? The Tourism Industry in Lombok, Indonesia” which was presented by the writer in the Ninth INFID Conference, “Good Governance in Regional Development” in Paris 1994. I found this paper in a bulk material about Lombok in the KITLV library. The paper is so impressive. When I was reading it, I felt myself flying back to my island and found many places with their atmospheres like what Mucipto described. He described many interesting tourism destinations in Lombok Island. However, what I found is not the beautiful scene of these places nevertheless terrible stories about unfortunate societies living in those places. Besides smiles and cheerfulness of the tourists visiting the places, there are weeping and sorrow of local inhabitants. Here, I want to briefly share my reading on Mucipto’s paper.
Lombok, which is located precisely east of Bali, is well known for its natural beauty. There are many interesting tourist destinations which can be found on this small island. Beaches, waterfalls, mountains and Segara Anak Lake are among the most popular destinations that have invited many foreigners to come to Lombok which in turn has become a big source of income for the local government, the West Nusa Tenggara Province. However, this advantage is not always beneficial to local people. It barely makes significant positive changes within society. For its poverty, some say that Nusa Tenggara Barat really stands for Nusa Sengsara Barat (Heavy Sorrow). Below some examples of how in the name of tourism, local people did not get any beneficial from their own land.
Senggigi
The Senggigi beach was the first area in Lombok to be developed for tourism. The UNDP (the United Nations Development Programme) recommendation to develop Lombok’s tourism sector has long been kept secret among investors and government agencies. Knowing this recommendation, many investors and government officers rushed to purchase land in the area which has driven prices up tremendously. In order to acquire the land from the local people at cheap prices, investors together with the government ask villagers to sell it or threaten to confiscate it.
Years ago, the Senggigi area was a well-known fishing area and a fish market. As Senggigi has now been developed as a resort area, many villagers have been forced to move further inland. This forced relocation has had a huge effect on the local-people-economic life since they had to change their occupations and they had no experience in those new occupations. New hotels around the beach also do not absorb many local people as their worker either in building the hotels or in operating them. Most of the employees originated from Java, Bali and foreign countries. It is difficult to prove that the Senggigi community is realizing any benefit from the development of the tourist industry in their area.
Gili Terawangan, Gili Meno, Gili Air
These three Gilis are located in the Tanjung Resort Zone. Up to 1979, Gili Terawangan could not be inhabited due to a thick mangrove forest and various pests like mosquitoes and rats. In 1976, a corporation got a permit to open the area up for coconut plantation and then they recruited labors from Lombok. However, the pests destroyed all of the harvest and the company abandoned the plantation and its employees on the Gili. The labors continued their substistence life through plowing, fishing, an herding small livestock.
In 1985, a German tourist spent a night on the island. He then wrote a travel guide mentioning Gili Terawangan as an ideal tourist destination, noted for its gentle and hospitable local people. Ever since, thousands of German tourist have visited this Gili and the local people started to build small-scale tourist industries. Gradually, their quality of life improved as more and more people came to stay in the Gili and the locals became absorbed into the tourist economy.
However, in 1991, the previous corporation returned to the island and reclaimed their former plantation land which they had abandoned years earlier. They demanded that the locals demolished their bungalows on the grounds that the land is government-owned. The local government supported this claim and requested that the people relocate elsewhere.
The people in Gili Terawangan insisted that they had been utilizing the land for more than two years and had acquired land certificates a long time ago. They claimed that under the law they were eligible to utilize the land as long as they had been utilizing it continuously for at least two years.
In the Lombok New Order era, if someone talked about opening a business in the tourist sector, we would often hear the following remarks: “I know the former General X” or “I was asked by the son of General X to join a business”, or “I will introduce you to Mr. X who is a former high-ranking government officer from department of Y”. There was a strong belief that without proper “backing”, a given enterprise would not have the assurance that their business would still be in operation once a stronger, more well-connected businessman enter into the game.
Meanwhile, in the case of Gili Meno, collusion among bureaucrats and investors is even clearer. Here, from its hamlet leader to its district leader took parts in sacrificing the local people regarding land matters.
In the Gili Air case, the land take-over went smoothly as the village leaders were under threat by the investors to mediate the sale of the villagers’ land. It could safely be concluded that in the case of Gili Terawangan and Gili Air, a Bupati and even a Governor cannot adequately protect citizens’ rights, In other words, power became a loose cannon. It was not used to maintain societal interest instead of investors’ interest.
Kuta and Sekaroh
The Kuta beach, located in the south coast of Lombok, was declared a restricted area in 1989, and BPN (State Land Agency) was instructed not to issue any ownership certificates in the area. However, as many as 200 hectares was eventually authorized to the Lombok Tourist Development Corporation (LTDC). This corporation is a joint venture between PT. Rajawali and Pemda (the local government) that has split shares of 65% and 35% respectively. The LTDC planned to construct the tourist resort “Putri Nyale” on the site.
Residents of the area were informed that they would have to move and would receive some compensation. This resulted in unrest and social conflict. Despite their refusal to move, the villagers were forced to leave their lands without adequate compensation resettlement.
Another aspect being jeopardized by tourist development in Kuta is the cultural aspect. There is a tradition of Sasak or/and Wetu Telu community in Lombok to gather in the Seger beach at the full moon in February. At the determined time, all the customary leaders gather on the beach to look for the swarms of Nyale (worms). Through Nyale, local people believe that they can predict whether or not they will have a successful harvest and whether or not they will find their perfect mate in life (a matchmaking ceremony).
This ceremony is a ritual key for Lombok society which is held as an annual jamboree. For investors this ritual ceremony has been translated into a commodity. The location of the ceremony has been fenced off, forcing the locals to walk around the swamp and squeeze among cars and motorcycles of tourists from the cities to access the site. The local government has also interfered as the Governor himself has Instructed that Bau Nyale should be conducted during the weekends in order to persuade more tourists to come. In response, the villagers eventually relocated the ceremony to a more isolated area in Sekaroh. Unfortunately, however, investors are now looking for land in Sekaroh for the tourist industry.
The Tupat War in Lingsar
Cultural abuse and selling local cultural assets can also be found in Lingsar. Here, the tourist industry is eagerly promoting the Lingsar temple and the Tupat War ceremony as “tourist objects”. A stage for tourists was erected around the temple and guides from the city lead tourists to the place. The Tupat War is practiced among the Balinese and followers of Wetu Telu (the indigenous community of Lombok) to celebrate peacefulness between these two societies. The ceremony symbolically means that they no longer throw spears at each other but throw blessings instead, which is tupat (a traditional Indonesian dish made of rice cake, boiled in a rhombus-shaped packet of plaited young coconut leaves).
Investors have constructed platforms for tourists to watch the ceremony. They have definitely not been invited, but the platforms enable them to witness the cultural events free. Tourists make no financial contribution whatsoever to the locals and all of the tourist dollars go to the travel agents.
Tanak Awu International Airport
In addition to what were mentioned by Mucipto, it is also noteworthy to talk about Tanak Awu case in which people were sacrificed by the government. In order to increase the amount of tourism on this island, the local government has a plan to build a new international airport in the centre of the island. With the international airport, foreigners who want to go to Lombok are able to go immediately to the island without transiting first in other Indonesian airports. The recent airport, Selaparang, is considered inadequate for this purpose. Therefore, the government looked for another piece of land, namely Tanak Awu, in which to build the new airport.
The conflict between the government and the owners of the land started in 1995 when the state-owned airport operator PT Angkasa Pura 1 expropriated 850 hectares of fertile land by an administrative act. Since then, the local leaders have oppressed the peasants. Most of the Tanak Awu villagers are poor peasants. They have been living in the area for generations. However, the project continues.
This one-sided decision made the peasants angry. They did not want to leave their land. Although the local police had notified them to leave the fields, they kept on planting rice and other plants. Finally, the conflict could not be hindered. The peak of the conflict was on 18 September 2005, when the local police fired more than 700 peasants who gathered to commemorate Indonesia’s National Peasants’ Day. Many people were wounded and hospitalized. Some other people were arrested.
It is too ironic that the governments on the one hand try to be very friendly to foreigners by enabling them totally nice trips, but on the other hand they become very unfriendly to their own society. The Tanak Awu case is another example of how the poor hardly benefit from their natural resources. In this respect the resources were exploited for tourism. Building a new international airport, which sacrifices the poor, is not the only way to increase the number of tourists coming to the island. For me, many other things can be done for this purpose such as promoting the island through the media and cutting many illegal taxes which burden tourists. To build a good image is better than to build a new airport.
Leiden, 24 December 2007
Sumber : http://www.fathananiq.co.nr/
Posted by
fismaba
at
16.35
2
comments
Labels: Buah Pikir
ADA APA DENGAN NABI BARU ?......
ADA APA DENGAN NABI BARU ?......
Oleh Tamim Asyhar AM
"Mas aku takut sekali kawan-kawanku disini banyak yang menjadi pengikut aliran baru dan aku juga sering diteror, bagaimana aku harus bersikap?" itulah bunyi sms yang diterima kawanku beberapa hari yang lalu dari salah seorang kawannya yang tinggal dijakarta. akhir akhir ini memang banyak sekali bermunculan aliran baru, belum kering dalam ingatan kita saat lia eden muncul dan mengaku sebagai malaikat jibril namun sekarang lagi lagi kita dikejutkan dengan hadirnya Al Qiyadah Al Islamiyah yang muncul bersama dengan nabi barunya.
sebenarnya Fenomena aliran atau nabi baru itu bukanlah barang baru. Alkisah, sejak zaman Muhammad telah ada yang mengaku menjadi nabi baru. Musailamah al-Kadzab adalah yang pertama terang-terangan mendeklarasikan sebagai nabi baru. Ia berkuasa di daerah Yamamah, kini salah satu distrik di Arab Saudi. Ia menikahi seorang wanita yang juga mengaku nabi.
Musailamah dikenal sebagi orang yang sangat berani. Ia mengirim surat kepada Muhammad berisi ajakan untuk membagi kekuasaan bumi menjadi dua. Satu untuk Muhammad dan satunya untuk dia, Muhammad sendiri tak mengirim pasukan untuk menyerang Musailamah. Ia memilih mengungkapkan kedustaan Musailamah. Baru pada zaman khalifah Abu Bakar pasukan dikirim untuk memerangi Musailamah.
Nabi yang lain muncul di Pakistan. Mirza Ghulam Ahmad mendirikan Ahmadiyah pada 1889 dan mengaku sebagai nabi. Ahmadiyah masuk ke Indonesia sejak 1924. Pada masa awal perkembangan Islam di Jawa, muncul ajaran Manunggaling Kawula Gusti, yang diperkenalkan Syekh Siti Jenar pada abad ke-13. Di sini Syekh Siti Jenar tak bicara tentang kenabian, tapi lebih tinggi lagi, yaitu tentang konsep wahdatul wujud, menyatunya Tuhan ke dalam diri.
Sekarang nabi made in indonesia mulai muncul, adalah Al Mushaddieq nabi baru yang berasal dari Bogor Jawa barat. perawakanya yang sedang, berkumis dan selalu memakai kopyah hitam dikepalanya sama sekali tidak sesuai dengan gambaran orang pada umumnya bahwa seorang nabi harus pakai sorban, berjamban, dan memakai jubah. namun dibalik kesederhanaan itu mushaddieq telah membuat resah berjuta juta kaum muslim indonesia, tidak tanggung tanggung wakil presiden republik idonesia pun menghimbaau agar ulama indonesia introspeksi diri dengan melakukan evaluasi terhadap metode dakwah yang selama ini dilakukan.
yang membedakan mushaddieq dengan para pendahulunya adalah dia lebih memilih kaum muda sebagai sasararan dakwahnya, dan terbukti siasat itu ternyata ampuh, puluhan anak muda bahkan aktifis mahasiswa tertarik untuk mengikuti ajarannya. mereka kemudian bersaksi bahwa Al mushaddieq Al maulud rasulullah.
Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta Azyumardi Azra menyatakan, lakunya ajaran sesat di kalangan anak muda itu lantaran masyarakat kini mengalami kondisi yang serba tidak menentu. Anak-anak muda tersebut berusaha mencari seorang pemimpin yang dapat dipercaya dan dapat menerima krisis identitas mereka. ”Dalam sosiologi keagamaan ada yang disebut harapan eskatologis. Dalam harapan ini anak muda percaya bahwa pemimpin mereka adalah juru penyelamat, Imam Mahdi, atau apa pun yang akan menyelamatkan mereka,” ujarnya.
Harapan itu terbit karena pemahaman agama mereka belum mempunyai dasar yang kuat. Akibatnya, kata Azyumardi, mereka mengalami misleading dalam pencarian. Faktor berikutnya yang turut berperan: adanya kecenderungan pembiaran umat oleh para pemuka agama sehingga dimanfaatkan penyebar aliran baru. Di sinilah kepiawaian menjual ajaran itu muncul. Mereka dengan intens mendatangi dan menawaremudian kan bimbingan.
Selain itu, kondisi perekonomian Negara yang tidak kunjung bangkit dari keterpurukan menyebabkan banyak kalangan merasa frustasi, terutama kalangan muda yang merasa sulit mencari pekerjaan guna menyambung hidup mereka, sehingga ketika datang sesuatu yang baru, mereka mulai “mencoba-coba” dan pada akhirnya mereka terjebak dalam kukungan ideologi yang mengikat.
Menurut hasil investigasi Majelis Ulama Idonesia (MUI) banyak diantara pengikut Al qiyadah adalah pemuda pemuda pengangguran bahkan salah satu dari pemimpin Al qiyadah yang membawahi wilayah yogjakarta adalah mantan preman yang kemudian di sadarkan oleh Mushaddieq melalui “ritual ritual sucinya”. Karena aliran ini juga menggelar ritual mohon pengampunan. Kepada setiap pengikut ditawarkan bisa langsung berhadapan dengan rasul untuk pengakuan dosa. Bertemu rasul dan ada kepastian dosa diampuni ini telah membuat hati umatnya benar-benar plong. Dan dengan sejumlah nilai jual itu—boleh tidak salat, puasa, zakat, haji, dan diampuni langsung oleh rasul—Al-Qiyadah meraup ribuan pendukung.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa sesat berdasarkan pertimbangan dari kejaksaan dan kepolisian Republik Indonesia, pro-kontra kemudian bermunculan, yang mendukung fatwa tersebut bergerak cepat menyisir wilayah wilayah yang dicurigai sebagai basis Al Qiyadah, upaya main hakim sendiri inilah yang kemudian banyak dikecam oleh banyak kalangan.
Apakah dengan demikian mereka layak dihakimi? Jika dikaitkan dengan hukum di Indonesia tentang penodaan terhadap suatu agama, maka aliran ini akan terkena hukuman. Namun Rektor Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat, mengkritik MUI yang terlalu peka terhadap urusan akidah. Padahal, jelas keyakinan adalah masalah privat yang kebenarannya diyakini oleh pribadi yang bersangkutan. ”Sedangkan kalau ada sabotase rel kereta api, mereka diam saja,” komentarnya melalui banyak
sebagian pihak malah mencurigai keterlibatan intelejen asing ketika "membaca" fenomena aliran baru akhir akhir ini dalam rangka memperlemah posisi indonesia di dunia internasional setidaknya hal inilah yang ter"gambar" dari komentarnya ketua Majelis Permusyawaran Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Hidayat nur wahid "ada konspirasi dengan berbagai skenario untuk mengobok-obok ketenteraman umat beragama, khususnya kaum Muslimin dengan cara memunculkan berbagai paham sesat. Jika umat Islamnya repot mengurusi aliran sesat, itu artinya akan terpecah-belah dan tidak ada enerji untuk membangun. Dengan begitu, Indonesia akan terus-terusan mengutang, pasrah didikte pihak ketiga, dan berada di ketiak asing. Kalau umat Islam nggak kuat, itu kan yang diinginkannya" ujarnya.
Namun, apa sebenarnya yang ada dilubuk hati paling dalam nabi nabi baru itu hanya dialah yang tahu, yang jelas Mushaddieq telah Taubat dihadapan Ulama yang berdebat denganya. Dan akankah mushaddieq mushaddieq baru akan terus bermunculan. Wallahu a’lam.
Sumber : http://caktam.blogspot.com/2007/12/tamim-asyhar-am-mas-aku-takut-sekali.html
Posted by
fismaba
at
15.54
0
comments
Labels: Buah Pikir
Ied el-Adha => Ghodul Bashar
Ied el-Adha => Ghodul Bashar
Oleh Maramita el Fanni
Ied el-Adha => Hari yang menyeramkan untukku:(. Harus Ghodul bashar:D.
Huaaaa...akhirnya hari ini dateng juga.
Pasti orang2 muslim pada seneng banget yah menyambutnya, termasuk aku.
Takbir-takbir berkumandang...
rame...mpe bikin merinding
Kambing-kambing pun nggak mau kalah
Bareng2 pawai...buat say goodbye ma makhluk hidup lainnya...:D
coz...bakal ada pembantaian besar, wekekeke...
Lebaran di Kairo ma Indo emang beda banget. kalo di Indo yang lebih rame malah Idul Fitrinya. Jadi ngerasa sakral banget gitu.
Kalo di Mesir?
Hari gini nih yang rame. Pembantaian kambing bareng2. Weks...ampun deh!
Hmm...dan seperti biasa, Pagi2 para masisir dah pada ngumpul di lokasi sholat Ied special for indonesian (orang mesir yang pengen ngikut sih ahlan:D). Nah...kebetulan tahun nie tempatnya di masjid al-Salam. Alhamdulillah, nggak jauh-jauh plus nggak perlu ribet nungguin bis jemputan, huiks.
Berangkat sekeluarga. Ada Aku, Beng (Najah), Mami (lely), Ook (Laela), Mbak Jihan, n Yeyen. Senengnya...berangkat bareng-bareng kesana.
Mpe sana, kita2 langsung olahraga muka. Alias mulai pasang senyum dalam durasi yang lama. Gimana enggak, ketemu banyak orang, sambil cipika-cipiki komat-kamit bilang 'mohon maaf lahir & batin'. belum termasuk basa-basinya, ha3x. Sambil beramah-tamah, foto2an bentar. Bis itu Makan.
Hmm...dari awal temen2 dah pada booking lauk punyaku, hahaha. Mereka dah pada paham banget kalo aku paling anti yang namanya daging (except bakso; coz nggak kelihatan bentuk dagingnya:D -curang nih yee-), Ayam (suka sih, cuma kadang tergantung mood. Kalo dah bentuknya gimanaaa gitu, hiks ogah mo makannya. Nah...kebetulan banget, kebanyakan nggak moodnya), ato makanan yang dah di olah extrim mpe nggak ketahuan bentuknya (hahaha...bawel banget kan). Hu uh, dari pada yang begituan, mending di kasih tempe, tahu ato sayur. Ato...yang lebih parah, makan nasi ma krupuk aja dah istimewa, dari pada Pizza, Burger, Kibdah, de el el. Weks...ogah!
Nah...pas itu kita nyamperin stan'nya Gamajatim, recommended by Kak Ihya'. Wuiiiih...Te Oo Pe Be Ge Te deh buat masakannya. Lauknya banyak, seneng banget. Jadi ada alternatif. Coz, beneran...ternyata lauknya pake ayam. Untung ada telur, ma perkedel, hohoho.
Untungnya temen2'ku juga dah pada paham. Jadi kalo ada acara kondangan, makan2 ato apalah. Pasti ada peristiwa imigrasi lauk deh, hahaha. Yang paling sering kena imbasnya si Najah ma Mami. Kalo dah lihat lauknya pake daging ato ayam, pasti dah senyam-senyum, ngerasa kalo bakal dapet tambahan rezeky, ha3x. Tapi mereka juga baik, suka gantiin lauk laennya buat aku, he3x. Weks...bener2 my friends;).
Nah...lucunya lagi nih. Pernah ada acara kumpul silaturhami marhalah pemberangkatanku (Paguyuban Timur). Waktu itu lauknya pake daging. Berhubung temen2 (khususnya yang masak) dah pada tahu kali yah. Tiba-tiba aja, aku di kasih lauk khusus. Yang laen pake daging, aku pake Ikan sendiri, ha3x, jadi enak:D. Makaciiiih3x...
Kemaren juga gitu. Di undang makan-makan. Biasalah...nyate gitu loh!. Nah...yang ngundang tahu kalo aku g bakalan makan disana. Dan yapz...ternyata aku dapet kiriman telur. Hahaha...beda sendiri jadinya. Tapi tetep aku ambil bagianku. Aku bagi2'in satenya ma temen2, huehuehue.
(Balik lagi ke al-Salam, he3x)
Bis makan, aku, mami n beng keluar. Bingung mo kemana. Mo pulang ato jalan ke rumah temen dulu (sambil silaturrahmi). Akhirnya aku minta mampir ke rumah Kiki di bawabah II. Maksud hati sih buat ng'hindar dari daging2 yang t'beber di trotoar deket rumah. Huiks...ternyata malah di depan rumah Kiki pas, ada pembantain basar. HUAHUAHUA...mampussss!!!. Tapi ya udahlah, terlanjur basah mandi sekalian:D. Akhirnya, aku nggak mau pulang. Hari itu aku nginep di rumah Kiki barengan mbak Jihan. Si Najah n Mami pulang duluan. Sengaja aku nggak mau keluar rumah, sampe situasi bisa terbilang "Aman" buatku. Masak aku harus ghod el Bashar /"merem", plus tutup hidung tiap kali lewat depannya :(, nggak lucu banget kan.
Ngeriiiii...!!! Dimana-mana ada daging. Jalan2 penuh darah. Baunya juga kemana2. Tolooooong!!! Asli...aku paling sibuk cari tempat "ngungsi" kalo dah gini. Fiiiiuuuuuhhh...serasa nggak ada tempat aman. Tahun lalu, kita serumah dapet daging dari orang2 mesir banyak banget. Weks...Bener2 nggak mau masuk dapur deh. Soriii banget buat temen2 rumah. Mohon rukhsoh buat yang satu ini, he3x.
Weks...bener2 menyeramkan
Hiks...hiks...hiks...
Tapi bagaimanapun...aku seneng banget kalo ada ivent2 keagamaan kayak gini. Kumpul2 ma temen2, nyambung silaturrahmi jadinya.
Yah...tapi yang pasti neh...
aku pengen cepet berlalu, biar bisa enak kalo mo keluar2
nggak tahaaaaaan:(:(:(
Sumber : http://marapoenya.blogspot.com/2007/12/idul-adha-ghad-el-bashar.html
Posted by
fismaba
at
14.24
0
comments
Labels: Buah Pikir
Apa Yang Dunia Ide Cari!!!!

Apa Yang Dunia Ide Cari!!!!
Oleh Rienje Zumaroh
Saya sering sekali menyaksikan orang-orang yang idealis hidupnya habis untuk menyalahkan kenyataan, kenyataan yang seringkali menghampiri hidup, seringkali terjadi di luar rencana dan dugaan, jauh sekali dari nilai-nilai idealitas yang mereka impikan.
Siapa mereka???……anehnya mereka adalah praktisi pendidikan, orang-orang yang hidupnya di dedikasikan penuh di dunia akademik, untuk mendidik generasi bangsa. Benarkah?????/bahwa pendidikan formal hanya mengajari ide-ide yang seringkali mereka ucapkan tanpa tahu apa yang mereka omongkan. Ide-ide yang menjajah hidup kita dan terbiasa menyalahkan kenyataan yang terjadi. Dan mereka menyusun berbagai teori untuk semakin mengukuhkan bahwa kenyataan benar-benar salah.
‘BAHWA HIDUP INI BUKAN IMPIAN BELAKA, DAN JUGA BUKAN KHAYALAN YANG SEKEJAP SEMUANYA DAPAT TERWUJUD SESUAI DENGAN KEINGINAN, BAHWA HIDUP ADALAH KENYATAAN ITU SENDIRI”
iya!!!!!hari ini sebelum saya mempresentasikan makalah saya, sayapun harus sibuk mengumpulkan ide-ide terbaik, seperti harapan dosen dan sahabat2 yang akan mengomentari, mempertanyakan, mengkritik,,,,,,,,,,,dan sayapun harus seperti?????
Saya capek, saya lelah, jenuh sekali dengan segudang teori yang semakin membuat pencarian hidup semakin kehilangan muaranya. Berhadapan dengan mereka tiada hari tanpa menyalahkan.
Memang lebih baik saya diam???????/
Anehnya apakah mereka benar-benar tahu, solusi yang terbaik setelah mereka menyalahkan???menyalahkan DIKNAS, menyalahkan DEPAG yang terkenal dengan sarangnya koruptor, yang membuat pendidikan Islam (madrasah) terhambat perkembangannya?????
Tatkala saya terdaftar jadi mahasiswa dengan segala peraturan dan masalah birokrasi yang ribet. Iya!!!!saya juga harus ikut mereka.
Tatkala saya tidak mengiyakan, hasilnya segudang prestasi akademik tidak lagi bersanding dengan diri saya. Dan diam bagi saya adalah penghianatan bagi mereka..
Iya!!!!
Cara pandang saya telah bergeser
Nth kemana??/kearah tidak menentu. Kuliah malas, tidak ada jawaban pasti
Setiap hari diskusi
Membicarakan kehidupan kesana-kemari
Setiap hari ceramah…
Mencari siapa lagi yang harus di salahkan???/
Saya capek?????——____
Pikiran saya jenuh, mandeg
Seakan-akan berbagai teori yang dijejalkan oleh para dosen, seolah berontak dan mempertanggungjawabkan, mana kenyatannya????
Saya sudah capek hidup di dunia ide, mimpi, serta harapan palsu.
Saya lelah______tak tahu arah
Saya ingin hidup yang lebih nyata, karena hidup adalah rangkaian kenyataan yang perlu disikapi dan kita bertindak.
Iya!!!!!
“MESKI PADA HAKEKATNYA JALAN KEHIDUPAN BERAWAL DARI MIMPI , SERTA IDE TAPI HENDAKNYA TETAP BERMURAH HATILAH TERHADAP KENYATAAN”
saya tidak menganggap bahwa dunia ide itu tidak penting, tapi bagaimana kita mendekatkan teori tersebut dengan kenyataan, tidak memaksa kenyataan harus seperti yang diimpikan,,,,,,,,,,,,,,,,,,karena sampai kapanpun rasa syukur itu takkan pernah terucap jika kita tidak menerima kenyataan sebagai anugerah_Nya
_______tulisan ini, saya tulis pada waktu saya semester enam. Nth kenapa kalimat demi kalimat keluar apa adanya. Sebagai komunitas akademik kenapa saya berontak dengan dunia saya. Apakah benar seperti yang katakan ibu saya, bahwa saya telah menemukan dunia lain yang sejujurnya itu dunia saya sesungguhnya???????
“iya!!!!tanpa saya ingkari kenyataannya, saya jauh lebih nikmat merasakan kehidupan nyata dan masyarakat sesungguhnya…….
Saya merasakan nikmatnya nonton televisi bareng keluarga setelah kian lama saya tidak mengerti dunia keterikatan emosional itu; saya menikmati indahnya berbaur dengan keluarga besar saya. Ini adalah sebagai akibat dari seringnya saya menikmati liburan semester di rumah, di sana saya terdidik di kehidupan yang sangat nyata_____
KompLek Dosen UIN, Mei’07
Sumber : http://akurienzoom.blogspot.com/2007/09/apa-yang-dunia-ide-cari.html
Posted by
fismaba
at
14.15
0
comments
Labels: Buah Pikir
Ketika Aku Tergoda
Ketika Aku Tergoda
Oleh : Mochammad Moealliem
Sebagai manusia tentu punya sifat untuk menyukai sesuatu yang lebih bagus dari yang telah ada sebelumnya, dan sikap seperti itu biasanya akan membutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Dalam pembahasan kali ini akan membahas kisah pengorbanan yang kemudian diabadikan menjadi hari raya qurban.
Orang-orang yang tergoda, mereka itulah lakon yang penuh pengorbanan, Adam tergoda oleh Hawa dan melupakan pesan Allah, Yusuf tergoda Zulaikha, Sulaiman tergoda Bilqis, Dawud tergoda kupu-kupu emas dan masih banyak lagi catatan orang-orang yang tergoda oleh lawan jenisnya, termasuk penulis dan pembaca tentu juga pernah tergoda pada lawan jenis yang lebih cakep, lebih pinter atau bahkan lebih kaya, akibat dari itu akan timbul hati yang mendua dengan selimut dilema, dan apa yang akan terjadi selanjutnya tentunya variatif sesuai kadar keimanan masing-masing.
Bukan hanya pada lawan jenis orang biasanya tergoda, namun juga pada anak kesayangannya manusia bisa tergoda, apalagi telah begitu lama tak memilikinya, maka tak heran banyak orang harus berkorban yang sangat berat demi anaknya, cinta manusia pada anaknya terkadang membuat mereka lupa pada Allah, hal itulah yang mungkin terjadi pada Ibrahim ketika dikaruniai seorang anak diawal mulanya. Dimana lama sebelumnya mereka tak mendapatkan putra dari perkawinannya yang begitu lama.
Konon Ibrahim setelah mengalami ujian dibakar oleh Namrud akibat kecerdikannya berbicara, ketika ditanya "wahai Ibrahim apakah engkau yang memenggal kepala para berhala?" Ibrahim dengan cerdiknya menjawab "tanya aja tuh yang paling besar, goloknya kan dia yang bawa". Dan memang sebelum kelahiran Ibrahim ahli nujum raja namrud punya prediksi akan ada orang yang menghancurkan kerajaannya, tak jauh dengan kisah Musa, namun bedanya Ibrahim tidak dihanyutkan di sungai, tapi disembunyikan di goa dan ayah ibrahim adalah pembuat berhala, konon dekat dengan istana.
Setelah Namrud ketakutan dengan lahirnya orang yang akan menghancurkan kekuasaannya maka seluruh wilayah kerajaannya ditaftis (digeledah) dan diumumkan pada rakyatnya, dilarang menggauli istrinya dalam tahun itu dan semua yang hamil ditangkap. Konon ayah ibrahim, lupa atas pesan raja namrud untuk tidak menggauli istrinya, dan beberapa saat kemudian ada perceraian antara Azer (ayah ibrahim) dengan ibunya ibrahim, karena sang ibu juga tahu pengumuman raja, maka sang ibu lari kegunung dimasa hamil tua hingga melahirkan, setelah melahirkan sang ibu kembali ke kampungnya, sementara Ibrahim ditinggal didalam goa sendirian.
Suatu ketika Azer bertanya pada ibu Ibrahim "dimana anak yang kau lahirkan?' ibunya menjawab "disuatu tempat dan mati" mungkin waktu itu bohong untuk menyelamatkan nyawa seseorang tidak berdosa. Dan dengan jawaban seperti itu Azer cukup tenang, sebab kalau hidup Azer pun akan kena hukuman dari kerajaan.
Didalam goa, Ibrahim tumbuh dengan sistem diluar kebiasaan para manusia, pertumbuhan satu hari seperti satu minggu, satu minggu seperti satu bulan, dan satu bulan seperti satu tahun. Ibrahim sendirian sebab sang ibu tak akan berani kesana-kemari yang membuat orang curiga. Maka tak heran kalau penulis punya analisa kenapa bayi suka mengisap jempolnya sendiri, mungkin Ibrahim minumnya dari situ ketika di goa. Maka dengan sistem yang lempit waktu (thoyyul waqt) itu, Ibrahim hanya bertahan dalam goa selama 15 bulan berarti umur ibrahim saat itu 15 tahun, sebab satu bulan sama dengan satu tahun.
Maka tatkala keluar dia melihat bintang, dan mengira itulah tuhan yang memberinya makan selama ini, namun setelah itu tampak rembulan, lalu da berkata "itulah tuhan, kerena lebih besar", namun setelah itu bulan terbenam dan terbit matahari, maka dia berkata, "aku tidak suka tuhan yang bisa hilang", Ibrahim mencari tuhannya yang selama ini menghidupi dirinya dalam goa, hingga akhirnya menemukannya bahwa tuhannya adalah Allah tuhan semesta alam.
Singkat cerita Ibrahim menemukan keluarganya, sebagai anak tentu harus berbakti pada orang tuanya, hingga suatu saat dialog, dan mungkin terjadi perbedaan pendapat antara keduanya, maka ayahnya bilang "ikutlah aku nanti di hari raya" (hari raya kaum namrud) akhirnya Ibrahim ikut dan tahu banyak berhala yang selama itu diesmbah kaumnya, kayaknya dulu dikasih sesajen juga, maka suatu ketika ibrahim bercanda dengan sinis "hei berhala, kenapa kamu nggak makan?" hingga pada saat sudah sepi ibrahim memenggal kepala berhala-berhala itu dan disisakan satu yang paling besar, kemudian kapaknya dikalungkan pada berhala yang besar itu.
Akhirnya sang raja Namrud kebakaran jenggot dan mengutus para intelejen menemukan pelaku pengrusakan, hingga Ibrahim menjadi tersangka, (mungkin itu jadi tradisi arab sekarang, sistem tangkap dulu, interogasi belakangan) sebab selama itu hanya ibrahim yang sinis pada berhala, akhirnya dalam sidang itu ibrahim menjawab dengan cerdiknya diantaranya "tanya aja tuh yang paling besar" dan tentunya masih banyak kecerdikan dalam menjawab pertanyaan yang ada. Hingga akhirnya sang raja makin marah dan memutuskan untuk membakar Ibrahim.
Ketika hendak dibakar, ada malaikat yang menemui Ibrahim dan berkata "apa kamu butuh bantuanku?" lalu ibrahim menjawab "adapun kepadamu wahai malaikat, aku tidak butuh", konon malaikat itu wadul (ngadu) pada Allah sebelum menawarkan bantuannya pada Ibrahim, dan pesan Allah pada malaikat itu "kalau dia minta padamu maka tolonglah, tapi kalau dia tidak minta padamu, biarkan saja, karena itu urusanKu", hingga Allah berfirman "ya naru kuwni bardan wa salaman" wahai api jadi dinginlah kamu dan aman atas Ibrahim. Konon kalau tidak ada perintah salaman, api akan membekukan Ibrahim.
Itu kisah Ibrahim muda, sekarang kita pindah kisah Ibrahim yang tergoda, tapi bukan tergoda cewek, meskipun dia punya dua istri itu karena dapat hadiah dari fir'aun raja Mesir waktu itu, dan konon Ibrahim nggak mau menggauli hajar (budak perempuan hadiah dari fir'aun) hingga akhirnya Sarah menyuruhnya barangkali dengan Hajar akan punya anak.
Ibrahim dan Sarah adalah orang yang taat beribadah, dan dalam doanya memohon dikaruniai seorang anak dan hal itu berlangsung lama, hingga akhirnya Sarah menyuruh Ibrahim menggauli Hajar, dan lahirlah Ismail, sebagai anak yang pertama bagi Ibrahim yang telah dirindukan sejak lama, tentu kebahagian melihat anaknya melebihi apapun, dan mungkin perhatiannya terkuras pada Ismail. Dan mungkin hal itu membuat Sarah mulai cemburu, hingga pada akhirnya Hajar dan Ismail harus berada di Mekah.
Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan . Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami terraasuk orang-orang yang bersyukur".QS.7:189
Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.QS.7:190
Dari ayat ini bisa kita lihat bahwa anak ternyata bisa melupakan manusia terhadap Allah, mungkin hal itu terjadi juga pada Ibrahim, hingga akhirnya diuji oleh Allah untuk mengorbankan anaknya, siapakah yang akan dipilih oleh Ibrahim, adakah dia memilih Allah dan melaksanakan perintah itu atau memilih anak dan tidak melaksanakan perintah itu.
Kalau kita lagi punya anak yang menjadi kesayangan kita, tentu tak akan rela berlepas jauh, bahkan memukulnya pun eman (enggan) walaupun dia berbuat salah, apalagi disuruh mengorbankan, tentu kita tak akan mau, lha wong dipondokkan aja rasanya nggak enak karena jauh apalagi harus dikembalikan pada Allah.
Untungnya Ibrahim orangnya bijak, maka ditanyalah puteranya "Aku bermimpi disuruh menyembelih kamu, bagaimana pendapatmu nak?" lalu ismail menjawab "kalau memang itu perintah Allah, lakukan saja ayah". Itulah sikap bijak antara ayah dan anaknya, yang mana jawaban seorang anak seperti itu sebenarnya makin memperberat rasa untuk berpisah.
Bagaimana tidak? Kalau saja Ismail bilang "jangan ayah, itu melanggar HAM" tentu Ibrahim punya alasan untuk menolak perintah menyembelihnya, dan dengan jawaban Ismail yang bijak itu, Ibrahim tak punya alasan lagi, kalau toh dia tak melaksanakan perintah tentu itu karena rasa cinta pada anaknya melebihi cinta pada Allah.
Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".QS.37:102
Perintah itu kelihatannya ketika ismail mulai baligh, falamma balagho (terjemahnya diatas berusaha) karena Ismail hidupnya di mekah dengan ibunya, maka ketka hendak disembelih diatas bukit, mereka bersama-sama menuju bukit untuk mengorbankan Ismail untuk Allah, sesampainya di Mina setiap orang diganggu syeitan untuk menggagalkan pengorbanan ini atas nama HAM, mulai dari ibunya, Ismail sendiri, juga Ibrahim, saking jengkelnya akhirnya pembisik itu dilempar dengan batu sebanyak tujuh kali, yang kini diabadikan menjadi ritual haji yaitu melempar jumrah.
Hingga akhirnya Ibrahim sampai dibukit dan pisau hendak diayunkan, maka kemudian malaikat turun membawa tiga ekor kambing sebagai ganti Ismail, dan hal ini membuktikan bahwa Ibrahim masih memilih Allah daripada anaknya, dan kambing itu termasuk kambing yang tidak mengalami kandungan, seperti halnya unta nabi sholeh, juga ularnya nabi Musa.
Begitulah hati manusia ketika tergoda, untuk membuktikan ketidak tergodaan harus dibayar dengan biaya yang sangat mahal, dan kisah ini berlaku jauh sebelum alqur'an turun, bahkan ayah nabi muhammad adalah putera kesayangan kakeknya, pun konon dia yang harus dikorbankan, hingga akhirnya harus diganti dengan 100 ekor unta, baca kisahnya di sejarah hidup nabi muhammad.
Orang tua akan selalu menyayangi puteranya melebihi sayangnya pada diri mereka sendiri, walaupun kadang seorang anak tak tahu balas budi. Maka tak heran jika ridlo mereka termasuk ridlo Allah, bahkan pintu surga dibawah telapak kaki Ibu, namun mungkin banyak ibu masuk neraka hanya demi menuruti putera kesayangannya. Maka tak heran jika pasangan hati, buah hati dan harta benda adalah fitnah yang kita suka, sekaligus sebuah soal yang harus kita tampakkan jawaban dalam sikap kita terhadap itu semua.
Alliem
Cairo, Senin 24 Desember 2007
Akupun pernah tergoda
Sumber : http://muallimku.blogspot.com/2007/12/ketika-aku-tergoda.html
Posted by
fismaba
at
13.33
0
comments
Labels: Buah Pikir
Aku dan Sepotong Kata Jancok
Aku dan Sepotong Kata Jancok
Oleh Polan Hamdani
Jancok adalah kata yang paling sering aku ucapkan hari ini, baik sekedar terlintas dalam hati maupun langsung muncrat dari mulut dengan otot menegang. Ia adalah kata paling mantap untuk makian, mungkin sepadan dengan kata fuck dalam bahasa inggris. Motherfucker adalah mbo'ne ancuk, fuck off itu diancuk, derivasi dari jancok dengan bobot makian yang lebih kasar. Maaf kalau kata-kata diatas sama sekali tanpa melalui proses sensor, pakai tanda * misalnya. Seperti aku bilang tadi, aku sedang akrab dengan jancok.
Bermula dari "proses bangun tidur" yang kurang ideal, jancok pertama untuk hari ini terucap. Bangun tidur, atau lebih tepatnya masa kira-kira tiga menit setelah mulai sadar dari keadaan tidur, bagiku, adalah saat-saat yang peka. Humor selucu apapun, biasanya sama sekali tak merangsang saraf tawaku untuk bereaksi jika terjadi di saat itu. Dan idealnya, masa tiga menit itu aku habiskan di kamar mandi, merokok sambil memenuhi panggilan alam, juga untuk menetralisir keadaan yang berubah dari tidur ke keadaan jaga. Itu sudah merupakan ritual. Dan, "jancok!!!", kamar mandi sedang dipakai orang.
Jancok yang pertama ini sebenarnya hanya karena kecewa ritualku terganggu, bukan pada pemakai kamar mandi yang entah sedang apa itu. Tapi ketika sampai setengah jam kemudian kamar mandi masih juga occupied, jancok kedua, ketiga, dan seterusnya pun berhamburan dari bibir.
Jancok berhamburan lagi ketika mengetahui bahwa ternyata sarapan untuk hari ini telah habis tak bersisa. Bisa aku maklumi sebenarnya, karena memang orbit jagaku berlainan arah dengan teman-teman yang lain, mungkin juga dengan manusia normal lainnya. Bagaimanapun, aku masih merasa berhak untuk setidaknya mencicipi makan malam mereka sebagai sarapan pagiku. Tapi ternyata tidak untuk hari ini. Apa mau dikata, mie instan tak apalah.
Dengan permulaan hari yang demikian buruk, bisa dipastikan moodku hari ini akan langsung down. Tapi ternyata tidak. Hariku cerah kembali setelah menyaksikan Liga Champions, Liverpool menang 4-1 atas Porto dan Torres nyetak dua gol!. Tapi itu bukan berarti jancok tak hinggap di bibir lagi. Dalam masa 2 kali 45 menit itu saja, entah berapa butir jancok aku umbar, selain karena permainan Porto yang sesekali membahayakan gawang Liverpool, juga karena kesempatan-kesempatan yang dibuang percuma oleh Benayoun, Babel dan lainnya. Juga saat melihat cuplikan-cuplikan gol pada petandingan lain, jancok akrab lagi denganku, terutama ketika terjadi gol yang, katakanlah, spektakuler, seperti golnya Marseille ke gawang Besiktas yang dicetak oleh Taiwo dari jarak hampir setengah lapangan itu. Jiancok!!, makan apa dia sampai bisa menendang bola demikian kencangnya, pakai kaki kiri lagi!:D.
Pulang dari cafe tempat aku nonton bola itulah aku mulai kepikiran. Bukan tentang nasib Liverpool di Liga Champions yang sampai kini masih berat. Kalau masalah itu, biar Om Rafa yang menanganinya, toh dia jagonya untuk kasus must-win game, seperti laga penentuan dua pekan lagi melawan Marseille.
Yang membuatku kepikiran adalah tentang betapa fasihnya aku melafalkan jancok. Aku mulai dengan menapaktilasi hubunganku dengan kata yang satu itu. Perkenalanku dengan jancok bisa dibilang "agak terlambat", juga terjadi di tempat yang sebenarnya kurang tepat; pondok pesantren. Kalau aku ceritakan secara "kronologis", kira-kira begini jadinya:
Sampai pada kira-kira kelas dua Tsanawiyah, kata jancok masih merupakan kata asing yang tak mungkin aku ucapkan. Mengucapkan kata itu mungkin setingkat di bawah zina dan mencuri dalam hal kadar dosa yang ditanggung. Agak dibesar-besarkan memang, tapi pada saat itu, jancok sungguh haram diucapkan. Kalaupun terpaksa "harus" memaki, paling-paling "jangkrik" adalah gantinya, itupun harus dilanjutkan dengan istighfar sebagai ekspresi penyesalan.
Sebagaimana tipikal anak yang tumbuh di pedesaan jawa, masa kecilku berporos pada madrasah dan surau atau masjid. Pagi pergi ke sekolah, siang bermain -apa saja, kelereng, "benthik", sepakbola- sampai menjelang sandikala datang, karena nenek bilang pada saat itu Bathara Kala sedang turun mencari mangsa. Di kemudian hari aku menemukan penjelasan yang logis tentang sandikala ini dari Ahmad Thohari. Dia menjelaskannya sebagai saat keimbangan ekosistem alam bergoyang karena siang sedang beralih ke malam, karena sedang berlangsung perubahan intensitas sinar kosmik yang jatuh ke bumi. Bagiku, sandikala bukan hanya peralihan dari siang ke malam, tapi juga dari kotor ke necis, dari "nyeker" ke sandalan. Saat maghrib tiba, mulailah kehidupan malam untuk anak-anak desaku. Kebanyakan pergi ke surau untuk ngaji, sampai waktu Isya' datang, atau bisa sampai jam sepuluhan jika ada acara Dziba'an. Tapi ada sebagian yang masih tetap keluyuran, dengan pakaian yang masih kotor sisa bermain tadi siang. Dulu kami menyebut mereka "anak geng", anak yang nakal dan bandel di sekolah, juga suka curang kalau bermain, tapi sebenarnya hanyalah anak yang kurang mendapat perhatian yang cukup dari orang tua mereka. Dan merekalah yang sering mengucapkan jancok. Jancok adalah bahasa eksklusif untuk kalangan mereka yang tidak sembarang anak berani mengucapkannya, termasuk aku.
Tapi itu dulu, sudah lama sekali.
Saat melanjutkan sekolah dan sekalian mondok ke Tambakberas, aku semakin sering mendengar kata jancok terucap. Pada awalnya memang sangat mengejutkan mengetahui "kata kotor" itu begitu populer di tempat yang seharusnya religius seperti pondok pesantren. Kekagetanku mulai hilang ketika menyadari bahwa kata itu ternyata juga mempunyai makna lain di sebagian daerah Jawa Timur, terutama sekali daerah Bangil. Di sana, Jancok adalah bahasa pergaulan untuk membumbui percakapan. Seakan sebuah percakapan kurang lancar, atau bisa juga dianggap garing jika tak dibumbui dengan jancok. Daerah lain dimana jancok membudaya sepengetahuanku adalah Surabaya dan Malang, walaupun mungkin tak "separah" Bangil.
Walaupun mengetahui bahwa jancok ternyata juga merupakan bahasa pergaulan untuk sebagian orang, aku masih belum berani mengucapkannya sembarangan. Hati ini rasanya tak tega kata yang sangat kasar itu meluncur keluar, juga lidah terasa kelu untuk sekedar membisikkannya. Sebisa mungkin aku manahan diri untuk tidak ikut-ikutan mengucapkannya, toh masih banyak teman-teman lain yang perkataannya dihiasi dengan kata-kata religius, seperti Astaghfirullah, Innalillahi, dan sebagainya.
Tapi itu semua pada paruh pertama masa mondokku yang empat tahun.
Paruh kedua merupakan lembaran baru yang kontras bila dibandingkan dengan masa sebelumnya. Pada saat inilah aku mulai berubah dari "anak baik-baik" menjadi anak "kurang-baik". Aku mulai bersentuhan dengan rokok, begadang sampai pagi sambil main remi di kamar pondok yang terkunci dari dalam, juga hampir kena DO gara-gara absen yang melebihi batas. Pertama kali nonton film porno juga terjadi pada "fase" ini. Maka tak heran jika aku pun mulai mencoba-coba mengucapkan jancok. Mulanya memang untuk hal-hal yang benar-benar membuat marah, tapi lama-lama, jengkel sedikit pun sudah cukup membuat jancuk muncrat dari bibir, seperti tak kebagian sandal saat mau pergi sekolah dengan terburu-buru, atau antri WC yang kelewat lama.
Sampai pada "fase" ini, jancok sudah mulai familiar di bibirku. Tapi masih merupakan kata kasar yang hanya pantas diuarkan pada saat tertentu. Pun kuping masih panas jika kata itu ditujukan padaku, walaupun itu hanyalah bumbu obrolan tanpa maksud memaki.
"Fase" selanjutnya dari hubunganku dengan jancok adalah saat dimana jancok telah kehilangan maknanya sebagai sumpah serapah. Ia terucap bukan selalu berarti kemarahan sedang memuncak. Ia tak lebih hanyalah kata gaul yang menghiasi percakapan-percakapanku dengan teman. Toh mereka juga "cak-cok cak-cok" tanpa sesal. Bahkan kawan-kawan yang berasal dari Jawa Tengah pun, yang sepengetahuanku tak mengenal kata jancok dalam kosakata mereka, tak kalah fasihnya mengucapkan kata itu. Jancok sudah menjadi, pinjam istilahnya Andreas Harsono, bahasa perkoncoan untuk pergaulan sehari-hari.
Dalam Ushul fiqh ada kaedah yang berbunyi begini: Al hukmu yaduru ma'a illatihi, wujudan wa 'adaman. Maksud gampangannya kira-kira begini: Status hukum atas suatu masalah, harus melibatkan motif yang melatarbelakangi kemunculan masalah itu. Harapanku, kaedah itu bisa diterapkan untuk kasus jancok ini. Itu artinya, dosa yang setingkat di bawah zina dan mencuri itu, tak layak lagi aku sandang hanya karena aku menguarkan kata jancok, yang aku ucapkan tanpa motif memaki, minimal tanpa maksud memaki yang serius karena marah. Semoga saja!.
Sumber : http://pancaksara.blogspot.com/2007/11/aku-dan-sepotong-kata-jancok.html
Posted by
fismaba
at
13.22
0
comments
Labels: Buah Pikir